DUKUNGAN ZAYTUN DEMI NKRI SOEHARTO

April 19, 2005 at 10:28 pm Tinggalkan komentar

Tumbangnya rezim Orba tidaklah berarti bahwa rezim Orba sudah habis.
Seiring dengan wacana reformasi yang telah didengungkan sejak jatuhnya
rezim Orba hingga sekarang tidaklah lantas memberikan hasil yang positif
bagi rakyat banyak. Wacana reformasi kini cuma menjadi retorika semata dan
lagu lama yang setiap hari dinyanyikan namun tidaklah jelas arah dan tujuan
yang dicapainya. Reformasi kini telah menemui jalan buntu.
Para reformis kini mulai jenuh dengan kata reformasi.
Keadaan Indonesia tidaklah menjadi lebih baik bahkan dari hari ke hari
negara kita yang tercinta seolah mengalami musibah yang tidak ada
habis-habisnya. Mulai dari angka pengangguran yang tinggi, larinya para
investor asing, hutang yang kian menumpuk, hingga aksi terorisme yang
sedang marak terjadi.

Namun ada suatu fenomena unik yang lahir seiring dengan jatuhnya rezim
Orba. Fenomena unik ini adalah peristiwa munculnya kekuatan ekstremis agama
yang kian hari mulai berani menunjukkan taringnya. Kekuatan ekstremis agama
mungkin lebih dikenal oleh publik sebagai kekuatan ekstrim kanan, gerakan
fundamentalis, atau kelompok garis keras. Kekuatan ekstrim kanan yang
dulunya berusaha ditekan dan ditumpas habis oleh rezim Orba kini telah
menjelma menjadi kekuatan yang menakutkan, yang memunculkan trauma akan
peristiwa kelam dalam sejarah seperti pemberontakan DI/TII yang bertekad
menjadikan Indonesia sebagai negara Darul Islam. Bahaya laten sebenarnya
yang ditudingkan terhadap wajah komunis oleh rezim Orba rupanya salah
sasaran, kini kita melihat bahwa sebenarnya bahaya laten yang dihadapi oleh
bangsa kita adalah bahaya laten fundamentalis.

Dahulu ditekan kini malah dirangkul, begitulah kira-kira ungkapan yang
cocok untuk gerakan fundamentalis di Indonesia. Semasa Orba, gerakan
fundamentalis diberi cap sebagai gerakan ekstrem kanan yang harus terus
diwaspadai. Kelompok fundamentalis memang berhasil diredam oleh rezim Orde
Baru pada tahun 80-an mulai dari kasus Tanjungpriok, peledakan BCA maupun
peledakan Borobudur, dan kemudian dirangkul dengan mesra pada masa-masa
akhir kekuasaan Orde Baru. Kekuatan Neo-Orba sebagai pengganti Orba yang
telah tumbang kini menggunakan ekstrim kanan sebagai senjata
pamungkasnya. Ini terlihat jelas jika kita mengamati bahwa akhir-akhir ini
ketika kekuatan Golkar sebagai warisan Orba mulai “diserang”, gerakan
ekstrim kanan serta merta terus “bergerak” seolah hendak mengalihkan publik
dan pers dengan aksi-aksi mereka yang menghebohkan, mulai dari aksi
sweeping warga asing, aksi boikot produk AS, aksi pemboman Gereja, dan
segudang aksi teror lainnya yang berupaya menggoyang pemerintahan Megawati
dengan harapan Megawati akan jatuh seperti Gus Dur. Indikasi bahwa kekuatan
Neo-Orba menggunakan ekstrim kanan sebagai “perisainya” semakin kental
mengacu pada peristiwa pemukulan terhadap wartawan yang dilakukan oleh
sekelompok pemuda dari GPK (Gerakan Pemuda Ka’bah) ketika Akbar Tanjung
“diserbu” oleh para wartawan sehubungan dengan kasus Buloggate II yang
sempat membuat publik gempar. Hal ini semakin membuktikan bahwa kekuatan
Orba dengan ekstrim kanan adalah suatu “simbiosis mutualisme” yang saling
menguntungkan kedua belah pihak.

Fundamentalisme Islam di Indonesia memiliki ciri khas yang sangat jauh
berbeda dengan fundamentalisme Islam di negara lain seperti di Pakistan,
Mesir, Turki dan negara-negara mayoritas Islam lainnya, antara lain
dekatnya hubungan mereka dengan kalangan pemerintahan maupun militer.
Faktor inilah yang menjadi sebab utama bahwa adalah sangat sulit untuk
memberantas kelompok ekstrim kanan. Di Mesir, beberapa waktu yang lalu
pemerintah secara tegas menindak keras kedelapanpuluh orang anggota
kelompok garis keras Jamaah Al Jihad dengan menyeret mereka ke Mahkamah
Militer. Tindakan keras dari pemerintah Mesir ini mungkin sangat sulit
dilakukan oleh pemerintah kita misalnya terhadap FPI (Front Pembela Islam)
dan laskar jihad yang memang berstatus sebagai “motor” kekuatan ekstrim
kanan di Indonesia, karena alasan dekatnya kekuatan ekstrim kanan dengan
beberapa pihak tertentu dari militer. Alasan ini menjadi jelas jika mengacu
bahwa memang sebenarnya FPI hanyalah adalah ormas agama binaan militer yang
semasa Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Wiranto. Jadi di Indonesia,
gerakan ekstrim kanan memang sudah menjadi kendaraan politik dan militer
yang “sah” dengan maksud mempertahankan hegemoni dari rezim Orba.

Pemerintah Indonesiapun mengalami kesulitan jika harus mencontoh apa yang
dilakukan oleh pemerintah Malaysia dalam upayanya menghadapi gerakan
ekstrim kanan. Di Malaysia, gerakan ini ditekan habis oleh pemerintahan
Mahatir Mohamad dengan alasan bahwa kemunculan gerakan ini akan
membahayakan stabilitas nasional. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad
sendiri dengan berani mengatakan adanya kelompok militan yang berniat
mendirikan negara agama di Malaysia setelah menjatuhkan pemerintah
Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Pemerintah Malaysia menyebut kelompok
ini berniat menyingkirkan Mahathir dan mendirikan negara Islam di Malaysia.
Pemerintah Malaysia juga menuduh kelompok ini mempunyai hubungan dengan
kelompok Al-Qaeda milik Osama bin Laden, yang dituduh terlibat kasus
penyerangan di New York dan Washington pada 11 September. Apa yang
dilakukan oleh pemerintah Malaysia dapat saja dilakukan di negeri Malaysia
dengan melakukan “karantina” terhadap ekstrim kanan namun belum tentu akan
semudah itu jika dilakukan di Indonesia. Di Indonesia, walaupun jumlah
mereka kecil, namun kelompok ini sempat menancapkan kukunya di dalam tubuh
pemerintah Indonesia bahkan di tengah-tengah masyarakat. Merekapun memiliki
akses dana yang cukup kuat untuk mengorganisir kelompok mereka. Salah satu
bukti yakni kemunculan secara tiba-tiba Yayasan Raudhatul Jannah, yayasan
yang akhir-akhir ini secara santer terdengar karena terlibat dalam kasus
penyelewengan dana non bujeter Bulog.
Disinyalir yayasan ini sebenarnya cuma kedok dari suatu gerakan yang ingin
mendirikan Negara Islam Indonesia (DI/TII). Yayasan ini bermarkas di Pondok
Pesantren Mahad Al-Zaytun di Indramayu.

Salah satu hambatan yang ditemui oleh pemerintahan kita dalam rangka
memberantas habis kelompok ekstrim kanan adalah karena mudahnya isyu agama
diletupkan oleh gerakan fundamentalis. Jika mereka hendak diberantas, maka
dengan mudahnya mereka akan menudingsiapa saja yang memusuhi mereka adalah
sama saja dengan memusuhi Islam. Dan saya begitu yakin bahwa tidak ada
seorangpun di Indonesia yang ingin disebut sebagai orang yang anti-Islam.
Mereka dengan cerdik bersembunyi di belakang wajah Islam dan menggunakan
Islam sebagai kuda tunggangan guna memuluskan kepentingan politik dari
kelompok mereka. Kelompok ekstrim kanan akan berkoar bahwa gerakan
anti-fundamentalis yang memusuhi mereka akan dibelokkan maknanya oleh
mereka menjadi gerakan anti-Islam, padahal upaya menumpas kelompok
fundamentalis tidak sama dengan menumpas umat Islam.

Para fundamentalis cuma “serpihan kecil” dari umat Islam, karena pada
faktanya mayoritas umat Muslim di Indonesia adalah Muslim yang moderat dan
toleran. NU sendiri sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan di
dunia adalah ormas agama yang mayoritas pengikutnya berasal dari kelompok
Islam yang moderat, demokratis, dan anti kekerasan yang senantiasa berupaya
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Ini berbeda sekali dengan ormas agama seperti laskar jihad, FPI, GPI,
beserta elemen-elemen fundamentalis lainnya yang suka melakukan kekerasan
dalam mewujudkan ambisi politik dari kelompoknya sehingga tidak perlu heran
bahwa aksi-aksi mereka sering menjurus ke arah aksi terorisme.

Fundamentalisme pada mulanya adalah “serpihan kecil” dari komunitas umat
Kristen. Gerakan ini adalah gerakan radikal dan militan yang menjaring para
penganut Kristen Protestan dan berkembang di Amerika Serikat di akhir abad
19. Inti gerakan ini adalah mengembalikan ajaran Kristen kepada
asal-muasalnya atau dapat disebut juga
sebagai suatu gerakan reaksioner dalam rangka menentang modernisasi dan
sekulerisasi di AS. Sama halnya dengan Islam, fundamentalisme dalam
Kristen tidaklah mewakili umat Kristen secara keseluruhan. Mereka cuma akan
menjadi kelompok kecil yang selamanya dikucilkan oleh masyarakat banyak
karena eksklusivisme yang ditonjolkan mereka, yang menampakkan sikap yang
selalu anti sosial dan sangat arogan di mata masyarakat.

Fundamentalisme dengan wajah agama manapun apakah itu dengan wajah Islam,
Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha, dan lainnya sama-sama memiliki ciri
yang identik. Mereka sama-sama menggunakan kekerasan dan aksi menghalalkan
segala cara dalam rangka menjalankan “misi suci” yang mereka emban. Atau
dengan kata lain aksi dari kelompok fundamentalis adalah dengan terorisme.
Fundamentalisme Kristen melahirkan Gerakan Patriotik Kristen yang pernah
melahirkan seorang Timothy McVeigh yang menjadi dalang aksi pemboman gedung
federal di Oklahoma. Gerakan rasis dan sektarian dari kelompok Ku Klux Klan
adalah merupakan produk dari fundamentalisme Kristen yang secara jelas
telah menyelewengkan ajaran Kristen dan menebarkan teror rasis terhadap
kelompok ras kulit hitam di AS.
Fundamentalisme Katolik melahirkan kelompok IRA sebagai kelompok separatis
di Irlandia yang sering menebarkan teror pemboman terhadap gedung-gedung
sipil dan pemerintah, juga melahirkan kelompok front pembebasan Basque di
Spanyol yang melegalkan pemboman dan pembunuhan. Fundamentalisme dari agama
Hindu menebarkan ancaman melalui gerakan Macan Tamil di India yang sering
melakukan aksi bom bunuh diri.
Pendek kata, wajah fundamentalisme seperti mata uang yang memiliki dua
sisi, di satu sisi mereka memiliki maksud yang seolah-olah kelihatan baik
karena hendak memurnikan ajaran agama mereka, namun di sisi lain wajah
fundamentalisme adalah kekerasan, pembunuhan, pemboman, dan segudang aksi
teror lainnya guna memuluskan perjuangan mereka. Tentu saja sisi baik dari
gerakan fundamentalis adalah semu semata, karena pada kenyataannya gerakan
fundamentalis tidak pernah memberikan satupun keuntungan bagi masyarakat
banyak selain aksi terorismenya yang meresahkan dan menakutkan.

Fundamentalisme dalam Islam kini mengalami penyempitan makna yakni sebagai
simbol gerakan perlawanan thd kekuatan Barat dan agama Nasrani, bukan lagi
simbol gerakan anti kemajuan dan anti perubahan sebagaimana terjadi pada
mulanya. Ada tiga kelompok atau aliran utama fundamentalis Islam di
Indonesia, yang pertama adalah kelompok Tarbiyah yang berorientasi pada
aliran Ikhwanul Muslimin Mesir, yang kedua adalah kelompok Wahaby yang juga
menamakan dirinya Salafy dan merupakan sebuah gerakan Islam beraliran ultra
ortodoks dan radikal yang kemudian juga melahirkan kelompok laskar jihad,
dan yang ketiga adalah kelompok Hizbut Tahrir yang juga radikal dan
senantiasa berupaya untuk mendirikan negara Islam dan juga mengharamkan
konsep demokrasi. Pada prakteknya, ketiga kelompok tersebut sering bertikai
dalam merebut simpati dari para pengikutnya. Walaupun demikian, ketiganya
memiliki agenda yang sama yakni menginginkan terbentuknya negara Islam
dengan sistim khilafah yang tentu menurut versi mereka masing-masing
termasuk cara mencapai tujuannya. Agenda mereka yang bertekad menjadikan
negara Indonesia menjadi negara agama adalah merupakan suatu langkah bodoh,
langkah mundur, dan langkah yang salah kaprah. Pada kenyataanya, menjadi
negara agama akan menghasilkan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat. Jika
mau bukti, cobalah kita lihat Iran. Revolusi Islam yang dipimpin oleh
Ayatollah Khomeini yang dilakukan pada tahun 1979 toh tidak bisa membawa
Iran menjadi negara yang maju dan modern. Revolusi Islam justru malah
menyebabkan kemunduran dalam bidang ekonomi dan sosial. Dan lagi karena
revolusi ini, Iran menjadi negara yang terisolasi karena sikapnya yang
begitu anti terhadap barat dan anti kemajuan.

Ketegangan-ketegangan sosial yang sangat ekstrim sering terjadi akibat
aturan-aturan Islam kolot yang begitu ketat diterapkan. Kita juga dapat
melihat kegagalan Taliban dalam mengatur negaranya.

Afghanistan yang dikelola Taliban cuma menghasilkan sebuah produk negara
gagal di mana HAM dilecehkan, hak-hak wanita dirampas, hukuman yang tidak
manusiawi, dan pemberangusan terhadap konsep demokrasi. Di bawah Taliban,
Afghanistan tidak berhasi membangun negerinya menjadi negara yang makmur,
bahkan sebaliknya Afghanistan cuma dikenal dunia karena negeri ini
menghasilkan 75% dari produk opium di dunia, dikenal karena negeri ini
merupakan “eksportir” pengungsi terbesar di dunia, dan dikenal karena
negeri ini berkoalisi dengan jaringan teroris Al Qaeda di bawah pimpinan
Mullah Omar dan Osama bin Laden. Pertanyaan yang harus dilontarkan adalah
mengapa manusia tidak pernah belajar dari sejarah? Sejarah tidak pernah
berbohong dan telah nyata-nyata membuktikan bahwa negara sekuler jauh lebih
baik daripada konsep negara agama yang sudah usang, yang cuma cocok
diterapkan di “zaman batu”.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

ZAYTUN DI MATA AUSTRALIA KONSPIRASI BIN DENGAN AL ZAYTUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 559,321 hits
April 2005
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Flickr Photos


%d blogger menyukai ini: