Majalah Sabili, Bakin & Ma’had Al Zaytun

Januari 9, 2005 at 6:58 pm Tinggalkan komentar

Sabili, Bakin & Ma’had Al Zaytun

Oleh Taufiq Hidayat

Sumber: Majalah Darul Islam, April-Mei 2001, hal. 55-56

Sekitar pertengahan Desember 1999 lalu, saya bersama tiga rekan, Imam (Sabili)

berkunjung ke Ma’had Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Khusus untuk Imam

walaupun dia fotografer SABILI, tapi kami mengajaknya dalam kapasitas pertemanan

dan tukang foto. Begitu pula Eman, dia sama sekali tidak ditugaskan oleh Sabili.

Saat itu kami bertemu langsung dengan Syekh AS Panji Gumilang. Kedatangan kami

harus melalui prosedur dan penjagaan yang cukup ketat. Tiga rekan saya ternyata

tidak mengetahui tentang maksud dan tujuan berkunjung ke Ma’had Al Zaytun,

sehingga untuk beberapa saat sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan pihak

Ma’had Al Zaytun, terutama Panji Gumilang sendiri. Mungkin hari itu adalah hari

terakhir Panji Gumilang menerima wartawan ataupun sejenisnya dalam suasana

keterbukaan, karena setelah itu sangat sulit bagi media massa untuk mewawancarai

langsung Panji Gumilang, kecuali MAJALAH SABILI, mungkin karena Panji Gumilang

beranggapan, “Ah, kayak Sabili tidak tahu kami saja.”

Dalam pertemuan dengan Syekh AS Panji Gumilang beserta lengkap dengan aparat

elite Ma’had Al Zaytun di ruang Abu Bakar, saya mendapatkan kepuasan untuk

menanyakan apa saja soal Ma’had Al Zaytun dan siapa di baliknya. Sedangkan Eman

dari Sabili cuma bertanya sekitar Ghawzul Fikri saja. Ketidak-tahuan ketiga

rekan saya inilah yang memungkinkan saya leluasa menanyakan hal-hal yang sangat

sensitif sekitar isu Abu Toto, NII KW IX dan rekrutmen pendanaan Al Zaytun. Saya

berusaha mengorek dan mengejar keterangan tentang kebenaran isu tersebut

langsung kepada Panji Gumilang, yang pada akhirnya dengan nada berat, kesal dan

penuh curiga Panji Gumilang berkata, “Sudahlah itu kan masa lalu, yang

terpenting kita bisa berbuat untuk masa depan.”

Artinya, bahwa pertanyaan saya berkisar tentang berita keterkaitan Syekh AS

Panji Gumilang dengan Abu Toto dan NII KW IX sebagaimana ditulis Al Chaidar,

diakui secara jujur oleh Panji Gumilang.

Memang, tidak banyak keterangan yang dapat diambil dari pertemuan tersebut,

namun pengakuan Panji Gumilang saya anggap cukup sebagai sebuah data dan fakta

yang sangat berharga. Data yang sangat berharga selain pengakuan Panji Gumilang,

adalah hasil bidikan Imam yang jumlahnya hampir 2 roll penuh. Namun data

tersebut sengaja dilenyapkan oleh oknum-oknum di Sabili.

Ketika hampir berbulan-bulan kami mintakan hasil jepretan Imam, dia selalu

menghindar sambil berbohong. Ketika suatu saat di akhir tahun 2000 saya berhasil

mengontak dia via telfon ia hanya menjawab, “Taufik, saya akan ganti seluruh

biaya operasional ke Al Zaytun saat itu.” Ketika didesak oleh sahabat saya,

akhirnya Imam mau ngomong apa adanya, “Saya tidak bisa menyerahkan foto itu.

Saya diancam mau dimatiin oleh Panji Gumilang. Sebab ketika Eman Maret 2000 lalu

ke Al Zaytun dan mewawancarai Panji Gumilang, Eman mendapat titipan ancaman buat

Imam agar foto itu jangan dimacam-macamin, urusannya bisa saya matiin, kata

Panji Gumilang ditirukan Eman.”

Seluruh keterangan Imam tentang ancaman Panji Gumilang, ternyata tidak

disampaikan langsung oleh Eman kepada Imam. Ternyata Zaenal Mutaqin, Pemred

Sabili yang menceritakan adanya ancaman Panji Gumilang kepada Imam dengan

mencatut nama Eman. Terbukti ketika saya dan Fitri menanyakan langsung ke Eman

tentang kebenaran berita tersebut, Eman malah tertawa dan menganggap berita itu

cuma karangan Zaenal Muttaqin saja.

Ketika ditanyakan tentang keberadaan foto tersebut, Imam menjawab, “Disimpan

oleh Bang Zaenal.” Namun Zaenal Muttaqin sendiri malah bilang, “Imam yang

simpan, karena itu hak privacy Imam.” Akhirnya kami menyimpulkan, bahwa diantara

mereka penuh dengan kedustaan.

Bagi kami tim peneliti tentang Ma’had Al Zaytun, sangat memerlukan data tersebut

karena dalam foto tersebut terdapat gambar lengkap orang-orang yang menjadi

aparat Panji Gumilang dengan Ma’had Al Zaytunnya, dimana kami beranggapan dapat

mengidentifikasi orang-orang tersebut. Bahkan kami sempat berfoto bersama dengan

sebuah mobil milik Syekh Panji Gumilang yang hanya bisa dimiliki elite militer

TNI yang saat itu digunakan untuk berkeliling sekitar Al Zaytun atas perintah

langsung Panji Gumilang.

Apalagi tanda tanya besar saya ada pengakuan dari Al Chaidar tentang

pertamuannya dengan ZA Maulani, Kabakin saat itu. Beberapa bulan sebelum buku

karya Al Chaidar tentang Abu Toto dan Ma’had Al Zaytun akan terbit, Al Chaidar

diajak oleh Zaenal Muttaqin, Pemred Sabili ke Sate Pancoran. Ternyata di sana

sudah ditunggu oleh ZA Maulani yang sengaja datang untuk meminta Al Chaidar agar

tidak menerbitkan buku tentang Al Zaytun.

Negosiasi berlangsung, dan akhirnya buntu karena ZA Maulani menolak bargaining

tertentu dari Al Chaidar. Zaenal Muttaqin sendiri saya yakin takkan mengakui

kesaksian Al Chaidar ini. Namun pertanyaan saya kembali kepada raibnya file foto

milik kami? Kedekatan Zaenal Mutaqin dengan ZA Maulani? Dan siapa yang

memberikan perintah kepada Kabakin untuk melarang Al Chaidar menerbitkan bukunya

ataukah orang semacam Panji Gumilang bisa mmeberikan perintah kepada seorang

Kabakin?

Investigasi kami terus berlanjut sampai ke Pondok Modern Gontor. Saya saat itu

berhasil menemukan data dari buku induk Santri sekitar tahun 1960-1961 yang

terdapat file nama santri Abdul Salam bin Rasyidi lengkap dengan tanggal lahir

dan biodata penting. Data tersebut diduga kuat sebagai nama asli Syekh AS Panji

Gumilang, artinya inisial AS adalah Abdul Salam yang lahir di desa Sembung

Anyar, kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur.

Saya memutuskan untuk mencari keberadaan alamat tersebut, dan alhamdulillah

dengan begitu mudahnya tanpa halangan apapun saya menemukan rumah Abdul Salam,

di jalan Imam Rasyidi, nama ayahnya sendiri. Di sana saya bertemu adik

kandungnya Abdul Waahib Rasyidi yang menjadi Kepala Desa Sembung Anyar (nomor

telfon ada di saya). Saya pun berkesempatan bertemu dengan keponakan Abdul

Salam, sempat pula mengambil foto Ibunda Abdul Salam bin Imam Rasyidi beserta

keluarga.

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

LPPI akan dibubarkan oleh Kejaksaan Agung RI NII AL Zaytun- Gerakan Negara Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 553,594 hits
Januari 2005
S S R K J S M
« Des   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Flickr Photos


%d blogger menyukai ini: