MENGUTAK-ATIK AL-ZAYTUN

Juni 23, 2004 at 9:56 pm Tinggalkan komentar

Stockholm, 23 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaikum wr wbr.

TATI COBA KUTAK-KATIK AL-ZAYTUN BIAR DAPAT DIPAKAI PUKUL ASNLF/GAM

Ahmad Sudirman

Stockholm – SWEDIA.

KELIHATAN OTAK TATI YANG KOSONG MENCOBA MENGUTAK-ATIK AL-ZAYTUN BIAR BISA DIPAKAI MUKUL PERJUANGAN RAKYAT ACHEH DENGAN ASNLF/GAM-NYA

“Ngomongnya dah belepotan. Jawab email saya asal deh iii main nyambung aja yg dibahas bukan Al-Zaytun-nya. Tapi adanya doktrin dari pendirian NII (Negara Islam Indonesia) yg youw bangga-banggakan, e..tau-tau caranya nyalah! lagian koq dipotong email sy, cuplikan artikelnya gak dipajang. Malu ya ! entar dibaca masyarakat Aceh yg udah mulai muak dg milis akang. Habis cara-cara NII itu dalam pengumpulan dana koq sama persis dg GAM (Gerakan Aksi Menjajah! kemudian juga orang-orangnya gak ada yg betul ternyata emang gak diajarin ibadah! Ah sy kirim lagi ah” (Tati, narastati@yahoo.com , Tue, 22 Jun 2004 19:48:32 -0700 (PDT))

Baiklah saudari Tati di Jakarta, Indonesia.

Saudari ini memang betul-betul kalau berdebat asal cuap saja. Begitu melihat itu Pesantren Al-Zaytun pimpinan Abu Toto, sudah pula dianggap NII. Dipegang pula itu cara-cara yang dijalankan oleh AbuToto sebagai doktrin NII. Bagaimana bisa menyamakan apa yang dikerjakan dan dijalankan oleh Abu Toto dari Al-Zaytun sama dengan doktrin NII.

Saudari Tati, yang dimaksud NII oleh kang Ahmad adalah NII Imam SM Kartosoewirjo yang diproklamasikan pada tanggal 7 Agustus 1949. Dimana Pemerintahnya sampai detik sekarang ini secara de-jure masih wujud.

Jadi, itu NII SM Kartosoewirjo bukan Al-Zaytun buatan Abu Toto yang di Indramayu, Jawa barat itu.

Kemudian, itu kang Ahmad tidak memuat cuplikan artikel yang dikirimkan oleh saudari Tati dalam tulisan kang Ahmad, bukan dengan alasan seperti yang ditulis saudari Tati: ” Malu ya ! entar dibaca masyarakat Aceh yg udah mulai muak dg milis akang.”.

Mengapa kang Ahmad harus malu menampilkan itu kebohongan yang dikemukakan oleh pihak Al-Zaytun yang dihubung-hubungkan oleh saudari Tati dengan NII Imam SM Kartosoewirjo dan ASNLF/GAM ?.

Hanya, kang Ahmad menyayangkan saudari Tati yang miskin pengetahuan tentang Negara Islam Indonesia sudah dengan sedemikian semangatnya menelan apa yang ditulis dan dijalankan oleh pihak Al-Zaytun, dan celakanya dihubungkan pula dengan gerakan ASNLF atau GAM.

Kang Ahmad sudah menyatakan dalam tulisan yang lalu bahwa apa yang telah dijalankan oleh pihak Al-Zaytun tidak ada hubungannya dengan gerakan perjuangan rakyat Acheh melalui ASNLF atau GAM.

Itu bukan doktrin NII Imam SM Kartosoewirjo yang dipakai oleh Pesantren Al-Zaytun pimpinan Abu Toto itu. Pesantren Al-Zaytun mereka mempunyai cara dan metodenya sendiri. Jadi tidak ada satu titik pun memiliki hubungan antara Al-Zaytun dengan NII SM Kartosoewirjo.

Mengapa pula saudari Tati mencoba memaksakan menghubungkan antara Al-Zaytun dengan NII dan dengan ASNLF atau GAM, dengan ilmu saudari Tati yang tipis tentang NII dan Al-Zaytun ?.

GAM tidak melakukan dan tidak memiliki doktrin seperti Al-Zaytun-nya Abu Toto. Coba tanya itu kepada Abu Toto, atau kepada itu Al Chaidar, apakah ada persamaan doktrin, taktik, dan strategi perjuangan Al-Zaytun dengan perjuangan gerakan kemerdekaan ASNLF atau GAM ?.

Soal pengumpulan dana Al-Zaytun, itu mempergunakan cara mereka sendiri. Dan GAM juga memiliki cara sendiri, dengan iuran, sumbangan, bantuan dari anggota ASNLF atau GAM.

Itu soal pengumpulan pajak yang dipaksakan, itukan hanyalah propaganda murahan pihak RI dan TNI saja. Terbukti ketika diajukan itu semua tuduhan yang dilancarkan oleh pihak RI kehadapan tim Hakim Pengadilan Huddinge, Swedia, ternyata semua bukti tuduhan itu lemah, tidak kuat dan tidak cukup.

Jadi, kalau saudari Tati mengemukakan satu masalah tentang perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila dengan ASNLF atau GAM-nya, cobalah tampilkan dengan fakta dan buktinya. Jangan asal cuap saja.

Itu pribadi Ahmad Sudirman tidak psikopat. Mana fakta dan buktinya bawa Ahmad Sudirman itu psikopat?. Ada buktinya yang menyatakan dari Psikiter atau psikolog yang menyatakan jiwa Ahmad Sudirman terganggu atau psikopat.

Kemudian, itu soal ibadah kang Ahmad, itu ibadah tidak perlu dipamerkan, semuanya Allah SWT telah melihat, mengetahui, dan mencatatNya.

Jadi mengapa saudari Tati risau dengan ibadah Kang Ahmad. Coba pakai tudung dan tutup kepala saudari Tati, kalau memang saudari Tati sebagai seorang muslimah. Baca itu Al Quran, itu ada tercantum perintah menutup aurat pakai hijab atau jilbab dalam Al-Quran.

Selanjutnya, itu sejarah mengenai pertumbuhan dan perkembangan RI yang didalamnya menyangkut RIS adalah suatu bukti dan fakta sejarah yang benar dan jelas yang diakui oleh PBB dan diakui kedaulatannya oleh Belanda.

Mengapa itu sejarah RIS dianggap sejarah sesat ?. Mana fakta dan bukti dan dasar hukumnya yang menyatakan sejarah RIS adalah sejarah sesat ?.

Justru, pihak RI dibawah Soekarno dan para penerusnya inilah yang mau menghilangkan itu sejarah RIS yang dianggap sangat berbahaya untuk dijadikan alat membongkar kejahatan, penipuan licik, dan agresi Soekarno Presiden RIS terhadap Negara-Negara bagian RIS dan Negeri-Negeri yang ada diluar RIS dan diluar RI.

Nah, karena pihak RI terus berusaha menutupi kejahatan dan pelanggaran internasional dengan cara menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Acheh melalui RI, maka pihak RI dan para penerus Soekarno berusaha untuk membuang atau kalau bisa jangan sampai diajarkan dan dijelaskan itu RIS kepada rakyat di RI. Dan kalau bisa sedapat mungkin itu RIS harus dilernyapkan dari permukaan sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI.

Coba, kalau saudari Tati sebagai seorang yang punya ilmu, bukan seperti saudara Hadi pendukung Amien Rais, yang mengandalkan matanya saja, ketika mengupas dan membahas sejarah RI dan sejarah Acheh. Sehingga akhirnya ia mengakui bahwa penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Acheh adalah hanya merupakan istilah dan terminologi dari istilah dan terminologi “mempersatukan Nusantara” mengikuti apa yang telah dijalankan oleh Patih Gajah Mada dari Kerajaan Hindu Majapahit.

Sehingga kelihatan itu kerajaan Hindu Majapahit telah dihidupkan kembali oleh Soekarno yang telah melahirkan ajaran nasakom, nasionalisme, agama, komunis bagi rakyat RI.

Seterusnya, Ahmad Sudirman selalu mengulang-ulang sejarah penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Acheh oleh pihak RIS, RI, NKRI adalah memang itu suatu penekanan, bahwa sampai detik ini tidak ada yang mampu mematahkan argumentasi Ahmad Sudirman. Paling itu terakhir argumentasi saudara Hadi, yang menyatakan penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan merupakan istilah dan terminologi yang artinya sama dengan istilah dan terminologi mempersatukan Nusantara sebagai pelanjut dari kebijaksanaan politik agresi dan penguasaan dari Patih Gajah Mada dari Kerajaan Hindu Majapahit.

Jelas, dalam menjawab saudara Ahmad tidak melantur. Dimana Ahmad Sudirman ketika menjawab melantur ?. Semuanya ada fakta dan buktinya, ada sejarah dan dasar hukumnya. Semua tulisan Ahmad Sudirman tersimpan rapih dalam homepage http://www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm Dimana Ahmad Sudirman melanturnya ketika menulis ?.

Justru yang melantur itu adalah saudari Tati. Coba saja ketika membaca cerita Al-Zaytun, langsung saja menghubungkan dengan ASNLF atau GAM juga dihubungkan dengan NII. Padahal ilmu saudari Tati tentang NII dan Al-Zaytun tipis, kalau tidak dikatakan kosong.

Saudari Tati yang harus meminta mohon ampun kepada Allah SWT atau membaca istighfar adalah saudari Tati dan para penerus Soekarno yang masih tidak mau menerima dan tidak mau mengakui bahwa apa yang telah dijalankan oleh Soekarno terhadap Negeri acheh adalah suatu penelanan, pencalokan, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Acheh.

Kemudian terakhir, itu soal Amien Rais. Itu istilah amien bukan doa. Itu nama saja. Seterusnya itu soal kewalat. Apa pula Ahmad Sudirman kewalat kalau mengatakan kepada Amien Rais yang berjanji kepada rakyat Acheh dengan janji gombal atau janji palsu ?. Memang benar fakta dan buktinya. Mana itu Amien Rais menolak mentah-mentah Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003, kalau memang benar Amien Rais itu tidak suka perang dan kekerasan di Acheh. Yang bisa dilakukan Amien Rais hanya mengingatkan Megawati dan TNI saja, jangan memakai kekerasan senjata. Tetapi, tidak berani menyetop dan menolak dengan tegas pelaksanaan Keppres No.28/2003 dan keppres No.43/2003. Padahal dengan dasar hukum Keppres No.28/2003 itulah yang menjadi dasar hukum penyerangan dan pengerahan 50 000 pasukan TNI ke Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad

ahmad.swaramuslim.net

ahmad@dataphone.se

———-

Date: Tue, 22 Jun 2004 19:48:32 -0700 (PDT)

From: tati – narastati@yahoo.com

Subject: Fwd: RE: HADI ITU AMIEN RAIS OMONG KOSONG AKAN MENYELESAIKAN KONFLIK A CHEH

To: ahmad@dataphone.se, dityaaceh_2003@yahoo.com, yuhe1st@yahoo.com, mr_dharminta@yahoo.com, habearifin@yahoo.com, editor@jawapos.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, siliwangi27@hotmail.com, sea@swipnet.se, solopos@bumi.net.id, Padmanaba@uboot.com, kompas@kompas.com, waspada@waspada.co.id, redaksi@waspada.co.id

Cc: mitro@kpei.co.id, hadifm@cbn.net.id

Alloow….kang Ahmad…berkepribadian Ganda dan Orangnya juga Ganda……..caciiiiiiiinnn deh..cucian…deh…kacian….deh you..!!!

Ngomongnya dah belepotan. Jawab email saya ASAL deh iii..main nyambung aja yg dibahas bukan Al-Zaytun-nya. Tapi adanya doktrin dari pendirian NII (Negara Islam Indonesia) yg youw bangga-banggakan, e..tau-tau caranya NYALAH!! lagian koq dipotong email sy, cuplikan artikelnya gak dipajang. MALU ya…! entar dibaca masyarakat Aceh yg udah mulai MUAK…dg milis akang. Habis cara-cara NII itu dalam pengumpulan dana koq sama persis dg GAM (GERAKAN AKSI MENJAJAH)!! kemudian juga orang-orangnya gak…ada yg betul ternyata…emang gak diajarin ibadah!!! ah..sy kirim lagi …ah…

Buat pak Mitro and bung Hadi tul kan..yg sy bilang ni orang PSIKOPAT. akibat KECEWA terakhir ngomongnya ngawur plus ngelantur. Mana bisa dia nunjukin bukti kalo Aceh pernah dijajah oleh pemerintah RIS paling ngomongnya muter2. Namanya juga orang megang ajaran SESAT jalannya juga TERSESAT..nah jawabannya ya..gak jauh..jauh paling disekitar KESESATAN. Ngulang2 habis buntu sich….gak heran kan kita….!!!

Coba aja bedain orang normal dg yg gak normal. pasti dari BICARANYA-kan !!! coba ngomong sama orang gak normal jawabannya NGELANTURKAN…???

Duh..kang Istighfarlah..andai aja akang tidak bikin gara-gara dan tinggal di Indonesia pasti sy ajak dengar ceramahnya AA GYM sejuk…sekali. JAGALAH HATI..(lagu ini pas buat akang).

oh ya..kang…katanya..ya utk pemiliha presiden nanti susunannya seperti ini :

Mega – Hasyim Muzadi disingkat = moh jadi

SBY-yusuf Kalla disingkat = SBY kalah

Wiranto – Salahuddin disingkat = Wiranto salah

Hamzah Haz =ach…zz

Apapun Presidennya Amien…!! Rais. lho kang…jadi gak boleh ya..nyebut AMIEN asal, itukan doa, apalagi dibilang gombal. KUALAT….lho…!!!!

Tati

narastati@yahoo.com

Jakarta, Indonesia

———-

Well, lebih jelasnya nih, sy kasih kutipan lengkapnya ke dua artikel tsb Al-Zaytun : Membongkar Misteri Penebus Dosa

LAYAR terkembang karena diembus bayu. Makin kencang ia bertiup, makin cepat pula perahu melaju. Ini adalah amsal yang sering dipakai Abdul Salam Panji Gumilang, pemimpin Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, untuk mengelakkan berbagai tudingan sesat dari para ulama dan tokoh masyarakat.

Tuduhan menyimpang dianggapnya hanya angin. Ia tak akan membuat Al-Zaytun terpuruk, sebaliknya memicunya tambah maju. Selama tiga tahun terakhir, Al-Zaytun memang tak pernah surut digunjingkan. Geger teranyar dirasakan masyarakat Desa Haurgeulis yang berada di sekitar ma’had termegah ini.

Mereka menggunjingkan penguburan seorang pekerja di pesantren itu, yang dikabarkan cuma dibungkus kertas semen. Benarkah? Sekretaris Jenderal Forum Ulama Umat Islam (FUUI), Hedi Muhammad, mengaku sulit menemukan secuil bukti pun. Forum yang paling getol menuding Al-Zaytun sebagai lembaga sesat ini sempat bertandang ke warga sekitar pesantren, akhir Agustus lalu.

Pada kesempatan itu, digelar pengajian yang disampaikan Athian Ali Dai, Ketua FUUI. Acara yang dihadiri sekitar 1.000 warga desa ini tak bertujuan menyulut emosi massa. “Kami justru menenangkan warga,” kata Hedi. Dalam ceramahnya, Athian mengupas tentang akhlak bertetangga yang baik. Jika ada yang mencurigakan, lebih baik dilaporkan dan ditangani aparat, bukan dihakimi sendiri.

Sebagian warga sudah lama memendam kecewa terhadap Al-Zaytun. Plang-plang petunjuk jalan ke pesantren sempat dirusak. Tak cuma itu. Masyarakat sempat mengadukan pesantren ini ke DPRD setempat. Mereka minta penyelesaian oleh DPR-RI, Maret tahun silam.

Ratusan warga dari Desa Mekar Jaya, Suka Slamet, dan Tanjung Karet menemui Komisi II DPR, yang saat itu diwakili Rodjil Gufron dan Susono Yusuf dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. Mereka menerangkan berbagai kecurigaan penduduk tentang ajaran sesat di Zaytun. Mereka juga menuntut keadilan atas kerugian yang diderita setelah ladang mereka dilego untuk pembangunan pesantren.

Karsan, seorang warga, misalnya, mengaku menjual tanahnya seluas 2 hektare kepada Al-Zaytun. “Seharusnya dibayar Rp 60 juta, ternyata cuma Rp 14 juta,” katanya. Pembebasan tanah dimulai pada 1992. Semuanya ditangani calo dari aparat desa setempat. Warga selalu ditakut-takuti, jika tanahnya tak segera dijual, akan diserobot tanpa penggantian sedikit pun.

Keluhan penduduk selama ini tak pernah mendapat klarifikasi dari pengurus Yayasan Pesantren Indonesia –yayasan yang mengelola Al-Zaytun. “Jangankan berhubungan langsung, masuk pesantren saja sulit,” kata Karsan. Padahal, menurut dia, sewaktu pembebasan tanah, penduduk sempat diiming-imingi dijadikan pekerja di sana.

Faktanya, tak seorang pun warga desa bekerja di pesantren. Seluruh pegawai, baik pekerja bangunan, penjaga pesantren, maupun yang mengelola pertanian, ladang, dan peternakan, dari luar daerah.

Al-Zaytun mendapat tudingan lain yang lebih seram: pengembang megaproyek untuk menggodok kader-kader militan Negara Islam Indonesia. Kecurigaan ini bermula dari pengakuan para aktivis N Sebelas –sebutan pelesetan untuk Negara Islam Indonesia (NII). Sebutan miring itu, antara lain, dikemukakan aktivis Islam, Al Chaidar. Penulis sejarah DI/TII Kartosoewirjo ini mengaku sempat jadi bagian NII pimpinan Panji Gumilang, yang dikenal sebagai NII Komandemen Wilayah (KW) IX.

Al Chaidar mulai bergabung dengan NII wilayah IX pada 1991. Saat itu, ia masih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Ia dipercaya jadi komandan di Bekasi Barat. Tugasnya, selain merekrut anggota sebanyak mungkin, juga mengumpulkan dana

Selama lima tahun Al Chaidar mengaku berhasil menggaet sekitar 2.000 anggota, dan mengumpulkan uang Rp 2 milyar. Duit itu untuk membangun Ma’had Al-Zaytun. Namun, modus penggalangan dana ini menghalalkan berbagai cara, seperti mencuri atau menipu orang.

Dalam doktrin NII, menurut Al Chaidar, semua yang berada di luar kelompoknya dianggap kafir. Halal darah dan hartanya. Untuk jadi anggota NII harus menyatakan diri “hijrah” –pindah kewarganegaraan. Sebagai buktinya, mereka harus memberikan sedekah Rp 500.000-Rp 5 juta.

Masih versi Al Chaidar, berjubelnya pungutan jadi ciri khas NII Wilayah IX. Dosa besar seperti zina bisa ditebus dengan duit. Makin besar setorannya, makin terhapus dosanya. Zakat fitrah dan kurban juga bisa diganti dalam bentuk uang. Jumlahnya tak dibatasi. Sebab, menurut Al-Zaytun, zakat yang ditakar tak mungkin bisa membersihkan dosa setahun. Pemanfaatan dana dari setoran zakat dan kurban pun bukan untuk fakir miskin, melainkan pembangunan pesantren.

Selain itu, semua anggota tak terikat dengan kewajiban syariat Islam, seperti salat dan puasa. Alasannya, sebelum negara Islam ditegakkan, ibadah itu belum diwajibkan. Yang diutamakan adalah aktivitas merekrut anggota dan mengumpulkan dana.

Cerita ini persis dengan yang ditemukan Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS), bentukan FUUI. Karena itu, forum ini mengeluarkan fatwa sesat terhadap

Al-Zaytun, 16 Februari tahun silam. Sejak itu pula, menurut Athian Ali Dai, pengaduan para orangtua korban NII KW IX bertambah banyak.

Mereka mengaku menemukan anaknya jadi aneh setelah ikut pengajian NII. Mereka tak lagi mengindahkan nasihat orangtua, malah berani terang-terangan meninggalkan salat. Pengaduan para orangtua ini sempat ditindaklanjuti polisi. Sebanyak 17 aktivis NII diciduk, April tahun silam, di Jalan Muararajen, Bandung Tengah, Jawa Barat. Rumah itu dijadikan tempat pengajian dan pembaiatan anggota baru

Kasus serupa sempat terjadi di Jalan Sukarajin, Cicadas, Bandung, September tahun silam. Kebanyakan berstatus mahasiswa. Namun, polisi akhirnya melepaskan, karena tak punya alasan hukum untuk menahannya.

Sepak terjang NII ini jadi perhatian serius Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dua lembaga ini membentuk tim investigasi untuk membuktikan tudingan sesat terhadap Al Zaytun yang disinyalir terkait dengan gerakan NII KW IX.

Dua tim ini ternyata punya kesimpulan berbeda. Berdasar penelitian Departemen Agama yang dipublikasikan Maret tahun lalu, Al-Zaytun tak terbukti menganut ajaran sesat. Pendapatnya mengenai zakat fitrah dan kurban yang bisa dibayar dengan uang dan tak dibatasi jumlahnya bukanlah penyimpangan. Itu menyangkut reaktualisasi dan kontekstualisasi ajaran Islam.

Tapi, Tim MUI yang dipimpin KH Ma’ruf Amin berpendapat sebaliknya. Konsep zakat fitrah dan kurban ala Al-Zaytun dianggap menyimpang dari syariat Islam. Lebih jauh, temuan MUI yang dipaparkan Februari lalu ini menyatakan adanya indikasi kuat hubungan antara Al-Zaytun dan NII KW IX. Hubungan tersebut bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan.

Memang, menurut Ma’ruf, MUI belum menemukan sistem pendidikan di Al-Zaytun juga ikut serong. Namun, ditemukan berbagai bukti bahwa Panji Gumilang dan sejumlah pengurus yayasan terkait dengan NII KW IX. Organisasi ini dijadikan sarana untuk rekrutmen santri dan penggalangan dana

Penelusuran GATRA berkali-kali ke Al-Zaytun memang tak membuahkan hasil. Laiknya pesantren, kegiatan keagamaan berjalan biasa, mulai salat berjamaah, mengaji, hingga aktivitas belajar lainnya. Begitu pula kurikulum yang diajarkan. Setelah diacak-acak, hasilnya nihil. Tak tercatat adanya ajaran yang menyeramkan.

Namun, sosok Panji Gumilang tetap menyimpan misteri. Kepada GATRA, ia tak mau mengungkapkan bagaimana bersikap jujur untuk urusan dana, apalagi minta klarifikasi seputar keterlibatan di NII KW IX. Jawabannya selalu diplomatis. “Untuk apa klarifikasi, yang penting tunjukkan karya nyata,”

katanya.

Temuan MUI dan FUUI dianggap angin lalu. Katanya, tak ada kewajiban menjelaskan duduk perkara. Tapi, sikap diam inilah yang justru membuat Al-Zaytun tak habis-habis dirundung kontroversi. (GTR)

Jika yang menghantam Islam itu orang Yahudi dan Nasrani, bisa dimaklumi. Karena sudah ada sinyalemen Allah dalam Al-Qur’an. Tapi kini penghantaman Islam ini dilakukan oleh orang “Islam” dan membawa-bawa dalil Al-Qur’an. Bagaimana kita menyikapi fitnah berlabel “Islam” ini?

Majalah yang satu ini memang keterlaluan. Nama dan motonya sangat islami, diambil dari Al- Qur’an. Dalam beberapa edisinya, Syir’ah kan surat Al-Ma`idah 48 di inside cover. Kata “Syir’ah” yang berarti peraturan, memang diambil dari surat Al-Ma’idah 48. Ujung ayat ini diakhiri dengan kalimat “Fastabiqul Khairat” yang dijadikan moto perjuangan di kalangan Pemuda Muhammadiyah. Tapi, apakah opini dan beritanya mendakwahkan Islam dan menjunjung kemuliaan umat Islam? Ternyata bertolak belakang seratus delapan puluh derajat. Justru sering menurunkan tema yang mendukung kaum Nasrani dan menyebarkan pendiskreditan Islam.

Ketika terjadi pro-kontra umat Islam dan Kristen tentang RUU Kerukunan Umat Beragama, Syir’ah malah berpihak ke kalangan Nasrani. Maka bulan Januari 2004 Syir’ah mengangkat tema utama “Kerukunan Dalam Bahaya”. Berita dan analisisnya jelas mendukung aspirasi umat Nasrani, dengan beberapa judul tulisan: “Urungkan RUU Kerukunan Umat Beragama” (hal. 16); “Aturan Kerukunan yang Mencakar” (hal. 18-22); “Akui yang Lima, Akui Selain yang Lima” (hal. 23-26); “Kerukunan Tak Bisa Didikte” (hal. 28-31), dan lain-lain.

“FUUI_Athian_Ali_Dai”

Menjelang pemilihan DPR, DPRD dan DPD pada Pemilu yang lalu, bulan April 2004 Syir’ah menurunkan tema utama “Politikus Busuk di Partai Islam.” Dari berita yang disuguhkan, dapat ditebak bahwa tujuannya adalah penggembosan terhadap Partai-partai Islam.

Perwajahannya pun jauh dari kesan Islami. Saat umat Islam ramai-ramai mengecam pornografi dan pornoaksi dalam kasus Goyang Ngebor Inul yang seronok, Syir’ah malah memihak sang Ratu Ngebor pada edisi Juni 2003 dengan tema “Rasulullah Pun Menikmati Goyang.” Fakta yang dijadikan dalih adalah adanya Tarian Duet (Hadra) Maut yang berpasangan antara laki-laki dan perempuan adalah tradisi di kalangan keturunan Rasulullah, dan pertunjukan Tari Perut yang dilakukan di atas perahu-perahu Nil ini dihiasi dengan kaligrafi Arab bertuliskan La ilaha illallah, Masya Allah, dan Subhanallah. “Tari Perut menjadi trademark negeri yang kaya peradaban itu. Di sana, lembaga fatwa tidak mengeluarkan pengharaman terhadap Tari Perut” tulis Syir’ah membela.

Ilustrasi edisi ini sangat jorok, yaitu para penari Tari Perut yang sedang bergoyang -maaf- terlihat auratnya antara buah dada sampai pusarnya. Lalu pada halaman 49 dipersembahkan puisi untuk Sang Ratu Ngebor berjudul “Syair Inul” yang dihiasi dengan foto latar seorang wanita tak berbusana yang sedang menari (bergoyang).

Edisi Januari 2004, ditampilkan potret “telanjang dada” Cornelia Agatha pada rubrik Sudut Panggung. Begitu juga edisi Februari 2004, rubrik Sudut Panggung memajang foto sensual Rieke Diah Pitaloka yang ber­telanjang dada memamerkan kalung emasnya.

Edisi Maret 2004, pada rubrik Mereka Bicara, Syir’ah mela­por­kan secara detail kehi­dupan prostitusi di kota Parung. Penyuguhan berita esek-esek ini pun tak menanamkan moral, bahkan cenderung mem­popu­lerkan. Konyolnya, Syir’ah memuji wilayah mesum ini dengan sebutan “unik” karena letaknya ber­dekatan dengan pesantren. Ini menanamkan opini kepada pembaca seolah-oleh perilaku mesum tidak ditolak oleh komu­nitas pesantren.

Pendiskreditan terhadap Islam kembali dilakukan di edisi Mei 2004 yang memblow up seks bebas di kampus Islam yang dilakukan oleh para aktivis kampus Islam, aktivis Harakah Khilafah (Hizbut Tahrir?), dan alumnus pesantren. Foto ilustrasinya pun sangat mesum dan melecehkan Islam. Ada foto wanita berjilbab sedang tidur berpelukan di ranjang dengan lawan jenisnya, ada cover VCD porno lengkap dengan cuplikan foto bugilnya, dan seterusnya. Seolah-olah, adegan mesum itu sangat akrab di kalangan “kampus hijau.”

Memfitnah Tokoh Islam

Fitnah Syir’ah yang paling fatal dan jauh kaidah jurnalistik yang wajar adalah edisi Februari 2004. Pada laporan utama “Pindah Agama Karena Hidayah” yang disajikan, disebutkan bahwa pindah agama baik dari non Islam ke Islam maupun dari Islam ke non Islam adalah “karena hidayah Ilahi.” Padahal jika berlabel Islam, idiom “karena hidayah” tidak tepat ditujukan untuk orang yang pindah keyakinan dari Islam ke agama lain. Istilah yang tepat untuk kepindahan iman dari Islam ke agama kafir adalah “tersesat” atau “murtad.”

Nafsu mencoreng reputasi umat Islam oleh wartawan Syir’ah pada edisi ini sangat menggebu-gebu. Dilukiskan pada halaman 21-22 tentang murtadnya pelawak terkenal dari Sunda. Disebutkan bahwa Kang Maman yang bernama asli Muhammad Shalat, salah seorang anggota D’Bodors (group lawak terkenal di nusantara yang dimo­tori oleh Abah Us Us). Menurut Syir’ah, Kang Maman pindah agama karena “berangkat dari petunjuk Ilahi.” Alasannya, dia orang yang taat beribadah dan berlatar belakang ustadz. Dia pindah agama karena ketika shalat tahajud didatangi oleh penampakan sosok tubuh yang mengaku Nabi Isa alias Yesus Kristus yang mengatakan, “Akulah yang utama di dunia dan akhirat.” Setelah masuk Kristen, Kang Maman bisa mengobati orang yang sakit dengan doa-doa yang dihaturkan kepada Yesus Kristus.

Menanggapi berita tersebut, Kang Maman alias Kang Ibing yang di kenal di dunia lawak dengan julukan si Kabayan membantah. Dia mengatakan bahwa dirinya bernama asli H. Kusmayatna Kusumadinata. Untuk pindah iman ke Kristen pun sangat mustahil. Karena pelawak Sunda fanatik ­Islam yang ber­domisili di Ban­dung ini aktif berdakwah sampai saat ini. Hari-harinya dipenuhi dengan ceramah agama, karena dia juga se­orang mubaligh yang memegang jabatan sebagai Pembina Pesantren Modern Baitur­rahman yang memiliki 8 cabang di Bandung, Cilegon, Pandeglang, Riau sampai Kendari, Sulawesi Tengah.

Menanggapi bantahan ini, Annuri berkilah bahwa Kang Maman yang dimaksud Syir’ah bukanlah Kang Ibing alias Kabayan, tapi Kang Maman lain yang pernah menjadi anggota D’Bodors. Tetapi, ketika Tabligh mendesak dengan bebe­rapa pertanyaan, Annuri akhirnya meng­akui bahwa dia belum mela­kukan penge­cekan baik kepa­da Kang Maman maupun kepada Abah Us Us selaku ketua D’Bodors. Annuri hanya mengutip berita dari internet dan mengkonfirmasikan kepada majalah Narwastu (majalah bulanan kristiani). Lho, kok, membebek majalah Kristen?

Wartawan sekaligus staff redaksi Syir’ah ini tak mengelak bahwa dia memang agak lalai dalam menulis berita tersebut dengan alasan waktu yang sempit. Padahal, jika ini alasannya, berarti berita tersebut belum matang untuk disuguhkan. Karena menyuguhkan berita yang masih mentah, berarti meracuni pembaca.

Abah Us Us, komandan D’Bodors yang menjadi obyek penderita dalam berita gegabah Syir’ah menyatakan bahwa dia tidak pernah dikonfirmasi oleh pihak Syir’ah. Dengan tegas dia membantah adanya anggotanya yang murtad, sebab tidak ada anggotanya yang bernama Kang Maman. Memang nama Kang Maman pernah ada di group lawak Sunda, tapi bukan D’Bodors melainkan Trio Wijaya. Kang Maman yang ini pun bukan bernama asli Muhammad Shalat, melainkan Maman Wijaya.

Menyikapi fitnah tersebut, Abah Us Us menegaskan bahwa dia siap perang melalui jalur hukum. Karena akidah adalah persoalan yang sangat krusial. “Kalau soal begini ini, mau perang ya peranglah! Saya nggak takut. Ya, kalau sudah pakai fitnah-fitnah keluar-masuk agama itu kan sudah akidah. Urang Sunda bilang sudah “pecat iman.” Sudah dosa tidak berampun, itu, mah” tegas Abah Us Us mengakhiri wawancara.

Untuk itu, KH Athian Ali Dai telah menyiapkan Tim Advokasi yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI). “Masalah ini kami kaji lebih lanjut di Divisi Anti Pemurtadan FUUI. Insya Allah para pengacara FUUI yang akan menuntaskan kasus fitnah Syir’ah,” jelasnya.

Memang Syir’ah harus menebus dan membayar mahal atas isu-isu negatif yang ditebarkannya. Pelajaran berharga harus diberikan agar kelak tak seenaknya mendiskreditkan umat Islam. Selamat berjuang Tim Advokasi Muslim

Wassalam,

Tati

narastati@yahoo.com

Jakarta, Indonesia

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

AL-ZAYTUN ADALAH BUKAN NII NII – MA’HAD AL-ZAYTUN SESAT MENYESATKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 559,184 hits
Juni 2004
S S R K J S M
« Feb   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Flickr Photos


%d blogger menyukai ini: