Archive for April, 2005
Chelsea juara Liga Inggris
Setelah menanti selama 50 tahun

Akhirnya didapat juga yaa

Selamat tuk Chelsea, moga melaju di Champion ketemu AC Milan

Bacaan terkait :
- [Menanti]
- [Juara]
- [Pendapat Anda]
Add comment April 30, 2005
MARTABAT & KEHORMATAN BANGSA
Dahulu, ketika Aceh berdiri sebagai Kerajaan Besar yang menghormati bangsa-bangsa sekitarnya, termasuk Malaysia.
![]() |
Kemudian Aceh terpuruk dalam kesengsaraan dan penderitaan yang tak kunjung usai.
![]() |
Malaysia hadir menolong pemuda Aceh agar dapat mengembalikan kehormatan dan martabat bangsanya.
|
Bacaan terkait klik [sini]
Add comment April 29, 2005
KONSULTASI PENDIDIKAN GRATIS AL ZAYTUN
Assalamulaikum Wr. Wb
Kami dari Masyarakat yang Peduli terhadap Pendidikan (MPP)menawarkan
konsultasi pendidikan gratis kepada bapak2/ibu/sdr/i yang ingin
menyekolahkan putra/i-nya di pesantren Alzaytun.
Lembaga kami adalah lembaga swadaya masyarakat (lembaga independent)
yang perduli terhadap pendidikan bagi bangsa indonesia, dan kami
melihatnya bahwa Ma’had Alzaytun adalah tempat pendidikan yang
berkualitas. menciptakan manusia “dewasa” yang mampu hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa di dunia.
Maju terus Al Zaytun…………… (independent
Jika membutuhkan informasi lebih lanjut silahkan hub kami di
KONSULTASI GRATIS
email : rds_14022004@yahoo.com
rudi 081311240235
====
gw to mau nanya bener gak sih kalo alzaytun itu bentukannya BIN dan bener gak sih kalo Alzaytun itu ada karena sumbangan dari para NII KW IX pimpinan abu toto aq dulu ikutan NII kw IX ?
email : achiemku2003@yahoo.com
arif hakim
====
Kami masyarakat peduli pendidikan “tidak tahu/mengetahui” hal tersebut. kami hanya peduli terhadap pendidikan bangsa Indonesia yang sangat memprihatinkan. dunia sekolah diindonesia tidak jauh dari tawuran antar pelajar, narkoba, freesex dan hal-hal lain yang sangat menyimpang dari ajaran islam. dan kami setuju bahwa di Ma’had Alzaytun telah mampu menjawab itu semua. dengan menerapkan sistem boarding school yang memiliki motto pesantren spirit but modern system. dan sbeagai pusat pengembangan budaya toleransi dan pengembangan budaya perdamaian.
yang jelas saat ini seharusnya kita mesti bersyukur kepada Allah SWT yang masih memberikan rahmat-Nya kepada bangsa Indonesia dengan memberikan pendidikan yang bekualitas yang nantinya akan menjadi masa depan bangsa kita ini.
Secara logika saja kalo MAZ tidak benar, apakah mungkin akan mendapat dukungan dari dalam dan luar negeri ??????
KITA HARUS MENGGUNAKAN AKAL SEHAT SEBAGAI MANUSIA JANGAN HANYA PERCAYA ISU_ISU YANG MENYESATKAN>>>>>>>>.
SYETAN SELALU MENGAJAK MANUSIA KE NERAKA>>>>>>>>
Best regads
email : rds_14022004@yahoo.com
rudi 081311240235
24 comments April 28, 2005
Fajar Simpatik NII AL Zaytun
zleha: assalaamualaikum …
fajar: walaikum salam
zleha: maaf mengganggu …
fajar: tidakk
zleha: kenalkan nama saya zulaiha, kendari, 24 th
zleha: boleh kenal siapa tuan ?
fajar: kendari asik tuh
fajar: saya fajar
fajar: 25thn
zleha: Bang Fajar ada di mana ?
fajar: jkt
zleha: Ooo …
zleha: Bang Fajar pernah dengar tentang NII ?
fajar: blm
fajar: apa tuh
zleha: macam kelanjutan dari DI TII dulu …
fajar: di tii appaan lg tuh
zleha: Kalo Al Zaitun pernah dengar Bang ?
fajar: blm
fajar: emng ada apa tanya2 seperti itu klw musik hiphop sy ngerti
zleha: OOo … Abang masih kuliah yaa ..
fajar: iyaa
zleha: di mana Bang >
fajar: mustopo
fajar: ak bkn abang… emng tukang abang bakso
zleha: Kalau Bapak gemana >
fajar: pangil aja fajar
fajar: km orng islam
zleha: wah, ga enak lah masak dengan orang yang lebih tua .. begitu … pamali
zleha: iya Bang
zleha: Abang Islam juga kan ?
fajar: al zaytun apa sih saya taunya minyak zaitun
zleha: Lai nanya karena tak faham Bang …. maaf ..:(
fajar: iya
fajar: waduh
zleha: Kebetulan Lai lihat YM Abang online di situs N11 …
fajar: klw ak islam ktp
fajar: ooo
zleha: maksudnya islam ktp, apa tuh Bang ?
fajar: hanya islam2 an hueew tp ak jarang sholat
zleha: Ooo kek gitu … banyak juga di sini Bang …
fajar: emang km tau nii?
zleha: Abang kuliah di jurusan apa Bang ?
fajar: iklan
zleha: itu juga saya pingin nanya ke Abang ….
maaf
fajar: oo
fajar: klw al-zaytun ak pernah tau
fajar: itu pesantren gt deh’
fajar: keren katanya
zleha: pesantren al-zaytun istimewanya apa aja Bang ?
fajar: pendidikan
fajar: ak suka yng berbau pendidikan
fajar: mereka disana mewajibkan santrinya sampai s3 gokillll kan
zleha: s3 macam doktor yaa Bang ?
fajar: yah gitu deh
fajar: kata orang kan itu sesat
fajar: tapi bagi aku itu hebat’
zleha: sesatnya di mana Bang ?
fajar: katanya itu nii
fajar: klw itu benar nii trs knp padahal itu kan sesuatu yg bagus
fajar: orang indonesia itu primitif
zleha: maksudnya bagus bagaimana Bang ?
fajar: bisanya cuman ngomong doang tp ngk ada bukti]
fajar: bagus karena mereka mengakarkan pendidikan secara menyeluruh
fajar: yang jelas 2010 mereka akan membuktikan
zleha: maaf Bang, Lai ga bisa nyambung … maklum ga pernah kuliah, cuman lulus smu
zleha: bukti yang bagaimana Bang ?
fajar: bukti mereka lah yg akan memimpin negara ini dengan hukum islam dan presiden yang memakain system pendidikan
fajar: aku aja nyari nii itu dimana
fajar: karena ak pernah baca buku sejarah tentang dia
zleha: apakah presiden sekarang tidak memakai system pendidikan ?
fajar: iya
fajar: presiden kita hanya ekonomi saja
fajar: tapi ngk pernah mikir sejahtera rakyat
fajar: hidup itu hrs punya misi dan visi yg kuat untuk ke depan
fajar: makanya ak suka al-zaytun itu mereka menjalankan semuanya dengan memakai al-quran
zleha: maksudnya visi itu cita-cita yaa Bang ?
fajar: yapz visi jg bs disebut target
zleha: Abang bisa beri penjelasan, maksudnya al-zaytun menjalankan semuanya dengan memakai al-quran ?
fajar: bisa
fajar: kita kan orang islam kita juga harus pakai hukum islam dan hukum islam itu ada di al-quran
fajar: buat apa ada al quran
fajar: so al quran adalah buku yang isinya sistem bernegara
fajar: makanya nii itu memakai al quran untuk mengatur negara dan umatnya
fajar: so kitakan pakai pancasila
fajar: yag dibuat oleh manusia
fajar: kasarnya kita sudah menyembah manusia karena kita memakai hukum manusia.. ngerti kan
zleha: Lai usahakan mengerti Bang, walau jujur rada susah memahaminya … maaf yaa Bang …
zleha: Abang tadi berkata islam ktp – jarang sholaat, kok tiba-tiba bicara hukum negara … Lai jadi bingung Bang …
Add comment April 28, 2005
Seminggu Tanpa TV
Dapet info ini dari blog-na [Mas Kemplu] ;

Note : Idenya aku setuju-setuju wae, kecuali pas bal-balan yaa ….
Add comment April 27, 2005
Proklamasi Majalah UGM Tahun 1972
“BAHWA SESUNGGUHNYA HASIL KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGELINTIR ORANG DAN OLEH SEBAB ITU, MAKA PENINDASAN DAN KESEWeNANG-WENANGAN LAYAK TERJADI, KARENA SESUAI DENGAN KEDIKTATORAN DAN MILITERISME./
DAN PERJUANGAN SEMENTARA PENGUASA DAN ISTRINYA TELAH SAMPAI KEPADA SAAT YANG BERBAHAGIA SERBA MUMPUNG HIDUP DAPAT MENGERUK KEKAYAAN SEBANYAK-BANYAKNYA./
ATAS BERKAT DAN RAHMAT SETAN DAN DENGAN DIDORONGKAN OLEH KEINGINAN UNTUK DIPATUHI, MAKA PENGUASA RAKYAT INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEKUASAANNYA./
KEMUDIAN DARIPADA ITU UNTUK MEMBENTUK SUATA PENGUASA YANG KUAT, YANG MEMERINTAH SEGENAP BANGSA INDONESIA DAN SELURUH KEKAYAAN INDONESIA, DAN UNTUK MENEGAKKAN GENGSI-GENGSI PRIBADI, IKUT MEMELARATKAN BANGSA, MAKA DISUSUNLAH KETETAPAN INDONESIA MINI YANG BERBENTUK DALAM SEBUAH YAYASAN “HARAPAN KITA”./SEKIAN.
Selengkapnya klik [sini]
Add comment April 26, 2005
Intelejen dan Gerakan Islam AL Zaytun
Intelejen dan Gerakan Islam
Merujuk kepada firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 123 yang menyebutkan tentang berlakunya sunatullah atas rahasia setiap negeri, yang sepatutnya perlu diketahui serta diimani oleh mereka yang menyatakan beriman dan Islam, sehubungan dengan tanggung jawab mereka dalam menghadapi berbagai tantangan perjuangan untuk menegakkan Islam. Inventarisasi terhadap segala bentuk dan jenis tantangan yang harus dihadapi orang-orang yang beriman mau tidak mau harus dilakukan, sehingga konsentrasi perjuangan dan dakwah tidak akan pernah terbelah namun berjalan secara sinergis.
Di antara berbagai tantangan signifikan yang sangat perlu dan membutuhkan perhatian ekstra adalah sebagaimana yang firman Allah SWT sebagai berikut: “Dan demikianlah Kami jadikan dalam setiap negeri itu, para pembesarnya sebagai penjahatnya untuk melakukan rekayasa (makar) dalam negeri itu, namun rekayasa itu tidaklah akan menimpa melainkan kepada para pembesar itu, akan tetapi mereka tidak sadar.” (QS 6:123).
Yang kini menjadi pertanyaan adalah, mengapa dalam kurun waktu yang cukup panjang ini rekayasa jahat para pembesar di negeri ini belum berbalik menimpa mereka sebagaimana yang disebutkan ayat tersebut di atas? Mungkin karena kualitas dan kuantitas orang yang beriman dan beramal shaleh, ber-‘amar ma’ruf dan ber-nahi munkar, belum cukup signifikan di mata Allah, sehingga sunatullah di atas belum berlaku. Allahu a’lam.
Dalam realitas sejarah gerakan yang mengatasnamakan NII, sepertinya telah terjadi simbiosis-mutualis antara kelompok Muslim yang eksistensinya amat rentan setelah Kartosoewirjo tertangkap, dan dikalahkannya NII oleh rezim kuffar nasionalis sekuler Sukarno.
Keberadaan gerakan NII yang compang-camping secara lahir-batin tahun 1963-1968 telah masuk dalam program dan agenda tantangan bagi rezim militer kuffar Soeharto maupun rezim Sukarno. Sejak awal lahirnya Republik Pancasila, Islam sebenarnya sudah dipandang sebagai tantangan dan bahkan telah dianggap serta diperlakukan sebagai musuh oleh penguasa, dan diupayakan untuk dijadikan sebagai tantangan sekaligus musuh bangsa Indonesia.
Sejarah sebenarnya telah mencatat tentang kiprah permusuhan tersebut, terbukti dengan ditempatkannya orang-orang tertentu pada posisi-posisi strategis di setiap lini kekuasaan pada saat itu hingga saat ini yang keseluruhannya adalah anti Islam. Militer dengan rekayasa politik dan intelijennya hampir dapat dikatakan sepenuhnya menguasai medan maupun basis muslim tanpa terkecuali. Aksi-aksi intelijen dan perekayasaan itu sendiri sudah dimulai sejak beralihnya kekuasaan dari rezim sipil kepada rezim militer Soeharto. (1)
Terhitung sejak sekitar tahun 1968, militer sebenarnya sudah mulai menggarap melalui aksi rekayasa intelijen terhadap eksponen NII maupun program memecah belah kekuatan Muslim. Melalui komitmen mensukseskan pemilu 1971, Ali Murtopo melancarkan aksi “ulur tangan” kepada sisa-sisa lasykar NII. Tak disangka ternyata gayungpun ternyata bersambut, sebagian besar di antara sisa-sisa lasykar NII tersebut malah antusias untuk menyambut uluran Ali Murtopo, dan tidak diketahui niatan apa yang sesungguhnya ada di balik tangan para lasykar itu, ishlah atau istilah apa yang pantas untuk dijadikan alasan sebagai pengesahan atas hubungan baik tersebut.
Yang jelas hal tersebut berlanjut sampai tahun 1975, bahkan sisa-sisa lasykar NII akhirnya sampai percaya dan dengan sadar menerima ajakan Ali Murtopo(2) untuk melakukan konsolidasi kekuatan NII. Atas jaminan pribadi Danu Mohammad Hasan(3) yang selama ini telah bergabung dengan Ali Murtopo sudah sejak lama, lantas kemudian di lembaga formal BAKIN, namun dengan argumentasi “mempromosikan” Ali Moertopo, yang meyakinkan sudah dan siap untuk tobat serta kembali bergabung dengan Islam, dan berlanjut pula kepada upaya melawan kembali rezim militer kuffar dan dzhalim saat itu, serta untuk mengambil alih kekuasaan.
Kelemahan di seluruh segi yang dimiliki ummat islam, NII khususnya dijadikan sebagai ‘kelinci percobaan’ bagi operasi dan rekayasa politik/intelejen oleh rezim militer. Bila ini berhasil, maka untuk melawan kekuatan muslim di sektor lain pun pasti tidak akan mengalami kesulitan untuk diterapkan hal serupa.
Keberhasilan menjadikan pecundang terhadap para lasykar NII sejak tahun 1975 hingga sekarang tahun 2001, adalah merupakan bukti adanya kontrol penuh tangan militer-intelejen atas gerakan NII tersebut, dan seluruh rekayasa politik maupun intelijen militer boleh dikata semuanya sukses dan tak ada yang gagal satupun.
Apabila dirunut, masalah penyusupan infiltran intelejen militer ke dalam gerakan ummat Muslim Indonesia yang berlangsung semenjak Orde Baru di bawah Suharto dan Ali Moertopo, maka untuk yang pertama kalinya adalah melalui Danu Muhammad Hasan di tubuh NII yang akhirnya memunculkan kasus Komando Jihad di Jawa Timur tahun 1977. Bersamaan waktunya dengan itu Danu Muhammad Hasan menelusupkan pula infiltran intelejen militer Letda Suprapto Kasie SatGas Intel Kodam V Jaya ke dalam gerakan GPI melalui Zainuddin Qari’ sehingga berhasil memprovokasi sekaligus menggagalkan dan memberangus gerakan penentangan GPI terhadap P-4 dan Aliran Kepercayaan pada tahun 1978. Pada masa itu pula Danu Muhammad Hasan berhasil menjadikan Ateng Djaelani sebagai mitranya di dunia intelijen. Selanjutnya intelejen militer berhasil pula membina dan menyusupkan Hasan Bau ke dalam gerakan Warman, Abdullah Umar dan Farid tahun 1978-1979.
Tahun 1981 Bakin kembali menyusupkan anggota kehormatannya (Jenderal Kpral) Najamuddin ke dalam gerakan Jama’ah Imran melalui provokasi dengan menyerahkan setumpuk dokumen rahasia militer dan CSIS yang berisikan rencana jahat ABRI terhadap Islam dan ummat Islam, yang akhirnya memicu aksi perlawanan bersenjata, sehingga diantaranya terjadi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung. Yang berlanjut dengan terjadinya pembajakan pesawat Garuda Woyla, yang sebelumnya kelompok ini berhasil menghabisi karir dan nyawa Najamuddin itu sendiri, yang tercatat resmi sebagai infiltran intelejen dan provokator dari BAKIN tersebut.(4)
Tahun 1983, Ali Moertopo mampus mendadak, setelah berhasil mengkader penerusnya, yaitu LB Moerdani. Proyek awal LB Moerdani yang diajukan kepada Suharto, Presiden RI saat itu, adalah menciptakan stimulus dan pra kondisi untuk segera diberlakukannya Asas Tunggal Pancasila yang banyak mendapatkan tantangan dan penolakan dari kalangan tokoh-tokoh Islam. Pancingan militer secara terang-terangan untuk menyulut kemarahan ummat dengan sikap kurang ajar dan tak terpuji dari aparat teritori militer yang mengguyurkan air comberan dan sengaja masuk ke dalam Mushalla tanpa melepaskan sepatu lars kotornya di samping mengumbar kalimat-kalimat jorok dan menantang ummat Islam, yang mengakibatkan dibakarnya motor aparat teritory tersebut.
Akhirnya berlanjut dengan drama pembantaian ummat Islam di Tanjung Priok (12 September 1984), diawali dengan penangkapan beberapa jama’ah oleh pihak aparat dan berlanjut dengan reaksi keras tokoh-tokoh PTDI dan tokoh masyarakat Tanjung Priok Amir Biki dengan menggelar tabligh akbar yang panas, namun diinginkan oleh rezim kuffar dan militer. Ummat Islam yang hanya bermodal semangat dan teriakan takbir menuntut pembebasan anggota jama’ah Mushalla yang ditahan aparat dihadapi dengan persiapan tempur penuh oleh rezim kuffar dan aparat militer, langsung dibawah komando Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno dan Panglima ABRI Jenderal LB Moerdani. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menciduk serta memenjarakan banyak aktivis Islam melalui penyusupan kembali informan ke dalam tubuh para aktivis.
Tahun 1986 intelejen berhasil kembali menyusupkan intel sipilnya bernama Syahroni (mantan preman Blok M) ke dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayyib yang kemudian menyebabkan lebih dari 15 orang NII masuk ke penjara. Tahun 1988, sekitar satu tahun menjelang diledakkannya kasus Cihedeung, Talangsari, Way Jepara, Lampung, Letkol. Hendropriyono yang masih bertugas di Jakarta, mempersiapkan proyek tersebut seraya berpesan kepada komunitas kelompok Jama’ah Imran agar jangan ada yang ikutan ke Lampung, karena dirinya telah diperintahkan untuk melibas tandas gerakan tersebut nantinya setelah menjadi Kolonel dan sebagai Komandan Korem Garuda Hitam, Lampung.(5)
Tahun 1986 pihak intelijen merekrut Prawoto alias Abu Toto yang sedang berada di Sabah, Malaysia, dan menyusupkannya kembali ke dalam gerakan LK (Lembaga Kerasulan) tahun 1987, yang saat itu dibawah kepemimpinan Abdul Karim Hasan, yang sebenarnya sudah menyatakan pisah dari NII kepemimpinan Adah Djaelani tahun 1983. Keberadaan Abu Toto mampu mempengaruhi dan meyakinkan Abdul Karim Hasan agar kembali kepada manhaj NII dan menggerogoti struktur kewilayahan NII.(6)
Masuknya kembali Abu Toto sejak tahun 1987 inilah yang akhirnya membuat percepatan terjadinya perpecahan dalam struktur NII secara besar besaran, drama dan sandiwara penangkapan kecil-kecilan oleh aparat teritory militer terhadap kelompok yang akhirnya menyebut diri sebagai NII KW-9 ini. Penangkapan terhadap kelompok ini secara agak serius terjadi tahun 1994 di Pandeglang yang melibatkan sekitar 800-an anggota NII.
Mereka ditangkap justru setelah menyatakan keluar dari kepemimpinan Abu Toto. Bahkan ketika mereka menyebutkan tentang peran dan ketokohan Abu Toto dalam struktur NII KW-9, Abu Toto tetap tidak tersentuh aparat. Demikian pula saat kepemimpinan NII KW-9 dipegang H. Ra’is Ahmad yang tertangkap tahun 1992 disaat melantik ratusan Mas’ul di kawasan Bekasi, ketika menyebutkan keterlibatan Abu Toto dalam struktur kepemimpinan NII KW-9 kepada aparat, ternyata hal itu sama sekali tidak ditanggapi oleh aparat militer yang menginterogasinya. Malah akhirnya H. Ra’is Ahmad yang mendekam dalam tahanan (tanpa sidang pengadilan) sampai tahun 1997.
Kedekatan Abu Toto dengan aparat teritory di Karesidenan Cirebon selanjutnya dapat menjadi bukti, betapa Komandan Korem, Kodim dan Bupati serta Koramil maupun Camat demikian dekat dan kondusif-kontributif kepada Abu Toto dan Ma’had Al-Zaytun, sampai-sampai acara pelepasan Dandim 0616 Indramayu Letkol H. Pranowo yang dimutasikan ke Kodam Siliwangi dan temu-ramah-mesra dengan Danrem Sunan Gunung Jati yang baru pun bisa diselenggarakan di Ma’had Al-Zaytun.(7) Bahkan akhir tahun 1999, ZA Maulani yang Ka BAKIN pun sampai ikut-ikutan membela Abu Toto dan Al-Zaytun, dengan menyarankan kepada Al-Chaidar agar mengurungkan penerbitan buku yang ditulisnya tentang “Sepak Terjang Abu Toto NII KW-9” dalam kesempatan pembicaraan yang sengaja dijadwalkan di Rumah Makan Sate Pancoran, Jakarta Selatan.
Memang pada tahun 1996-1998 gerakan intelejen militer memutar modus dan haluannya, dari represif terhadap Islam dan ummat Islam menjadi seakan toleran bahkan dikesankan sangat akomodatif. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah diterapkannya strategi dan jurus “menebar angin menuai badai” ke seluruh strata masyarakat. Gerakan intelijen militer yang ditebarkan ke segala arah, juga dalam rangka memberi kesan kepada publik tentang paradigma militer masa lalu yang sulit untuk dielakkan dari absurditas, otoritarian maupun kekejamannya terhadap rakyat.(8) Namun hampir bisa dipastikan tidak satu pun faksi NII struktural yang tidak ditunggangi oleh militer, intelejen dan kalangan politisi oportunis. Adapun tentang NII non-truktural sulit untuk membuktikan ketidak-terlibatan militer di dalamnya. Wallahu a’lam.
Catatan kaki:
(1) Hampir seluruh pengikut Kartosoewirjo menyerah kepada RI, bahkan mengakui bahwa sikap politik NII sebenarnya salah menurut syari’at, kecuali beberapa kelompok resimen seperti resimen pimpinan H. Ismail Pranoto, yang baru turun gunung setalah tahun 1964 bersama Kamil.
(2) Ali Moertopo mendekati kalangan sisa-sisa NII melalui program santunan dana rutin setiap bulan serta modal kerja, awalnya melalui Ibrahim Aji (mantan Pangdam Siliwangi dalam bentuk suntikan dana bagi pengelolaan Gapermigas khusus untuk Adah Djaelani. Namun untuk selanjutnya bantuan disalurkan lewat GUPPI dan GAPERMIGAS. Akhirnya jadilah mereka sebagai kontraktor atau penyalur minyak serta SPBU. Selanjutnya mereka diminta untuk mengkonsolidasikan kekuatan NII. Saat itu Ali Moertopo masih menjabat Aspri Presiden yang selanjutnya menjadi WaKa BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya ‘opera’ rekayasa intelejen dengan sandi Komando Jihad di Jawa Timur. Yang perlu diingat, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 Ali Moertopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan Ubaidah, Imam Islam Jama’ah yang secara kelembagaan dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung, malah dipelihara serta diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk melanjutkan kiprahnya dalam menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar yang kemudian berganti nama lagi menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang.
(3) Danu M. Hasan, Panglima Divisi TII/NII sewaktu menjadi saksi dalam persidangan Kartosoewirjo menyatakan bahwa perjuangan senjata dan proklamasi NII adalah langkah yang keliru dan salah. Tokoh ini akhirnya menjadi sahabat Ali Moertopo dan terakhir tercatat sebagai intelejen sipil BAKIN saat Ali Moertopo sebagai WaKa BAKIN. Kedekatannya dengan WaKa BAKIN inilah yang membuatnya dipercaya lidah maupun pikirannya oleh Adah Djaelani dkk terutama ketika Danu M. Hasan menceritakan kesungguhan Ali Moertopo terhadap Islam serta kesiapannya memasok persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal melalui pantai selatan Jawa. Kolaborasi ini akhirnya diberi nama sandi Komando Jihad, awal tahun 1977. Di sisi lain Danu M. Hasan juga ikut bermain dalam kasus perlawanan GPI (Gerakan Pemuda Islam) menentang Aliran Kepercayaan, KNPI, P-4, dengan cara memasukkan seorang infiltran bernama Suprapto. Suprapto diajukan oleh Danu M. Hasan bersama salah seorang aktivis GPI bernama Zainuddin Qari’ yang diaku sebagai iparnya dan anak tokoh DI yang perlu diajak ikut berjuang bersama di GPI. Ternyata infiltran intelejen ini berpangkat Letnan dari Satgas Intelejen Kopkamtib Laksusda Jaya. Lihat buku A. Qadir Djaelani, “Pemuda Islam Menggugat”, 1982.
(4) Najamuddin pernah menunjukkan KTA BAKIN atas nama dirinya kepada penulis.
(5) Hendropriyono memberitahukan rencana proyek (kasus) Talangsari, Way Jepara, Lampung tersebut kepada keluarga komunitas Jama’ah Imran, keluarga Yaqob Ishak yang terhitung sebagai teman dekatnya di SMA. Karena rencana dan persiapan perlawanan ummat Islam di Lampung itu sudah diketahui dan sudah disiapkan (diantispasi) secara matang. Sayangnya, ketika masalah ini disampaikan kepada kelompok Jakarta, Nurhidayat dkk, mereka tidak menggubrisnya.
(6) Dari sumber terpercaya komunitas NII, yang kini aktif dalam Majelis Mujahidin.
(7) Baca Majalah Al-Zaytun Juni-Juli 2000, hal. 14.
(8) Peta medan maupun gerakan strategis intelejen militer sejak tahun 1996 s/d 2001 insya Allah dalam waktu dekat akan dibahas dalam buku tersendiri, agar buku ini tidak bergeser dan melebar dari topik, tujuan, kajian dan bahasan yang ditetapkan sebelumnya.
Sumber: Buku “Pesantren Al-Zaytun Sesat: Investigasi Mega Proyek dalam Gerakan NII” oleh Umar Abduh, Jakarta.
Intelejen dan Gerakan Islam (2/2)
Dari seluruh bentuk perlawanan ummat Muslim, baik yang dengan ataupun tanpa kekerasan, sesungguhnya tanpa terkecuali selalu dibawah kontrol dan provokasi intelejen militer. Kasus GPI, Woyla, Tanjung Priok, Lampung, Aceh, Mataram, Pam Swakarsa, Ambon dan Poso serta yang lainnya seperti perpecahan ormas dan partai Islam, keseluruhannya selalu melibatkan infiltran militer intelejen. Ini yang tidak pernah disadari oleh ummat Muslim Indonesia, hanya lantaran mereka mengaku sebagai militer hijau, atau militer yang selalu membawa nama dan suara serta jargon Islam. Juga, dengan cara memberikan sedikit santunan sekadarnya, tsamanan qalilan, yang bertujuan merusak dan melemahkan aqidah (iman) serta memecah-belah koordinasi antar tokoh Islam dan ummatnya, antar sesama tokoh Islam, maupun antar sesama ummat.
Kalaupun tidak dengan cara-cara tersebut di atas, maka bentuk rekayasa politik dan intelejen selalu memberi peluang dan kesempatan untuk memunculkan (memancing) terjadinya bentuk-bentuk perlawanan yang sporadis dari ummat Muslim, yang lantas dengan serta-merta dilibas dan digerus secara membabi-buta, tidak seimbang dengan tingkat “perlawanan” yang dilakukan.
Pada NII KW-9 Abu Toto (Abdus Salam) AS Panji Gumilang terdapat memiliki benang merah yang sangat kuat dengan NII Kartosoewirjo atau NII struktur Adah Djaelani. Karena pada dasarnya NII KW-9 Abu Toto adalah matarantai dari NII Kartosoewirjo, yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949. Walaupun secara kronologi, ada beberapa masalah yang timbul dalam perjalanannya, yang seakan hidup segan mati pun tak mau, sejak Alm. Kartosoewirjo ditangkap oleh Sukarno dan selanjutnya dieksekusi mati pada Agustus 1962, setelah melalui proses pengadilan militer yang sangat cepat dan singkat. Baru pada sekitar awal pertengahan tahun 1970-an, yang namanya NII mulai bangun dan langsung melakukan kolaborasi, kalau tidak mau atau keberatan jika disebut melakukan konspirasi dengan intelejen-militer rezim Orde Baru pimpin Soeharto, khususnya Ali Moertopo Laknatullah.
Sejak saat itulah NII struktural di bawah kepemimpinan Adah Djaelani Tirtapraja, mulai bergerak melakukan manuver rekruitmen melalui pembai’atan atas ummah, tanpa seleksi maupun ikhtiyari terhadap ihwal mad’u (objek rekruitmen), yang bid’ah, yang ambisius, yang materialistis, yang bodoh dan dungu maupun yang ulama’ dan intelek atau pun ahli ibadah di kalangan pengusaha, pejabat maupun masyarakat biasa, semua disama-ratakan (generalisasi).
Yang penting, bersedia di-bai’at dan menjadi warga NII, lantas diberi pangkat dan jabatan teritorial sebagai KW (Komandemen Wilayah) dan strata staff di bawahnya, KD (Komandemen Daerah, Bupati) dan strata staff di bawahnya, dan seterusnya. Yang untuk itu setelah di-bai’at dan diberi pangkat serta jabatan harus tha’at dan loyal, sekalipun tidak diberikan pembinaan dan pengajaran (tarbiyyah nadzhariyyah) ke-Islaman, tentang Tauhid dan ke-ikhlashan, tentang syari’ah dalam ‘ubudiyyah tentang akhlaqul karimah dan Tazkiyyatun Nafs.
Kelanjutan perjalanan NII struktural akhirnya bisa di tebak arahnya, dan karena ketiadaan pembinaan baik ruhiyah maupun intelektual dari para elit maupun staffnya, dan tiada pula uswah, keteladanan dari para pimpinannya dalam ber-NII (berjama’ah). Selain itu kolaborasi yang dijalin dengan Ali Moertopo, harus dibayar mahal. Karena sejak saat itu, rekayasa penjerumusan NII sebagai musuh laten negara, kesan pemberontak dan subversif sebagaimana kesan yang dibangun terhadap NII-Kartosoewirjo sejak dahulunya, mulai dijalankan Ali Moertopo melalui jalur intelejen militer maupun teritorial. Kesan itu akhirnya berhasil dikemas dalam proyek rekayasa pemberontakan (tindakan subversif) dengan nama sandi “Komando Jihad”.
Hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, NII struktural berhasil merekrut sekitar hampir seribuan orang. Sekitar tahun 1975 terbentuk struktur komademen seluruh Jawa, dan semakin pesatlah perkembangan rekruitmen tersebut. Melalui rumor yang disebarkan NII, bahwa Libya akan memasok senjata kepada mujahidin NII, hal itupun akhirnya menggema sampai ke mana-mana. Rektuitmen secara bergerilya menciptakan suasana psikologis yang panas dan tegang di kalangan ummat. Apalagi sambutan ummat pun kala itu cukup antusias.
Ali Moertopo, hanya dengan ongkang-ongkang kaki, menunggu waktu yang tepat untuk memanen hasil benih yang ditebarkan berupa ide provokasi-agitatif tentang bahaya laten komunis, dan sedikit modal serta uang transport untuk para pentolan NII, dan membiarkannya bergerak melakukan konsolidasi organisasi.
Ali Moertopo yang memegang seluruh informasi, gerak-gerik dan langkah pemanfaatan kalangan NII untuk bergerak, bangkit mereorganisir diri tersebut, dalam satu genggamannya, menetapkan tanggal 7 Januari 1977, sebagai hari bersejarah bagi prestasi dirinya sendiri dalam menjalankan Komando Inteljen OPSUS, untuk meringkus seluruh jaringan “kelinci percobaan” dari proyek rekayasa pemberontakan NII dengan sandi “Komando Jihad” yang dibuat dan dijalinnya sendiri.
Liciknya, Ali Moertopo menyisakan beberapa pentolan yang ada di Jakarta dan Jawa Barat (seperti Adah Djaelani Tirtapraja, Aceng Kurnia, Ules Suja’i, Toha Mahfudz, Tahmid Rahmat Basuki, Saiful Iman, Opa Musthapa, Seno alias Basyar, Ahmad Husein Salikun, Djarul Alam dan lain lain), agar terus bergerak melakukan rekruitmen dalam kondisi dan status mereka yang “buron” tersebut. Bahkan pada masa “buron” tersebut, pengukuhan resmi dan pengangkatan Adah Djaelani Tirtapraja menjadi Imam/Presiden NII, justru terjadi.
Ali Moertopo memang sangat tahu dan paham, secara psikososial dan untuk menyulut emosi orang-orang macam Adah Djaelani dkk yang nantinya pasti justru makin bersemangat untuk melakukan perlawanan atau dalam melampiaskan kemarahan, kalau bisa mungkin akan melakukan pembalasan kepada dirinya dan ABRI, atas pengkhianatan dan jebakan yang telah ia jalankan tersebut.
Benar saja. Adah Djaelani dkk setelah mengukuhkan diri sebagai Presiden justru kemudian malah “ngumpet” dan berlindung dalam struktur KW-9 yang baru dibentuknya sendiri dan saat itu dipimpin oleh Seno alias Basyar. Setelah main petak umpet selama lebih kurang tiga tahun, KW-9 diringkus semuanya. Kecuali beberapa orang antara lain AS Panji Gumilang yang waktu itu ganti nama menjadi Prawoto alias Abdus Salam dan sempat melarikan diri ke negeri Sabah, Malaysia, sambil membawa kabur harta jama’ah.sebanyak Rp 2 Milliar.(9)
Pada tahun-tahun setelah pemberangusan NII dengan sandi “Komando Jihad” tahun 1977, hampir setiap tahun Ali Moertopo (Intelejen, ABRI) menangguk dan meringkus jaringan struktur NII yang dijalin dan dipeliharanya sendiri, sedikit demi sedikit. Tahun 1979-1980 dengan kasus teror Warman di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Di Jawa Tengah, Abdullah Umar dengan perampokan gaji dosen UNS Solo (Universitas Sebelas maret). Di Jakarta, Adah Djaelani dkk dan elite KW-9 ditangkap Agustus tahun 1981, di Jawa Timur tahun 1982 ditangkap sebanyak 23 orang. Penangkapan berkala itu tidak pernah berhenti, hatta sampai ketika Ali Moertopo laknatullah tiba-tiba mampus mendadak.
Itu semua memang “proyek” ABRI yang sejak awal rezim Orde Baru eksis telah bermusuhan dengan NII serta Islam wal Muslimin, disamping untuk membangun opini bagi masyarakat, tentang pentingnya ketahanan Nasional, perlunya Asas Tunggal, betapa berbahayanya Islam fundamentalis serta segala macam gelar buruk dan menakutkan. Namun yang pasti adalah demi langgengnya kekuasaan dan posisi strategis mereka (Orde Baru) dalam struktur kemasyarakatan dan kenegaraan bangsa Indonesia.
Tahun 1984 sesaat setelah berhasil kaburnya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir(10) ke Malaysia, gerakan Usrah-NII muda mulai diberangus, dimulai dari Solo dan Jogjakarta (Irfan Suryahardi Awwas(11) melalui kasus tabloid Ar-Risalah/Al-Ikhwan dan Ir. Syahirul Alim(12) dkk melalui kasus Pesantren Kilat), akhirnya meluas ke seluruh Jawa Tengah setelah bersamaan dengan meledaknya kasus Tanjung Priok (September 1984), Bom BCA (Oktober 1984), Bom Borobudur, Bom Gereja (sekolah seminari kristen) di Malang, serta Bom Bis Pemudi di Banyuwangi di penghujung tahun 1984. Itulah serangkaian keberhasilan Orde Baru di masa “kejayaan” Ali Moertopo laknatullah dan Benny Moerdani laknatullah dalam memposisikan ummat Islam untuk siap ke penjara dan atau dipenjarakan kapan saja mereka mau.
Seluruh aktivitas dan gerakan Islam seperti Abdul Qadir DJaelani dengan GPI-nya, Imran bin Zein dengan kasus Cicendo dan Woyla, Amir Biki dengan kasus Tanjung Priok, Nurhidayat dan Warsidi dengan kasus Talangsari (Lampung), Aceh maupun Ambon, dan yang lebih khususnya adalah NII, Komando Jihad serta Warman, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa semuanya itu tak lepas dari cengkeraman dan genggaman intelejen/ABRI.
Jika pada masa kebangkitan kembali NII di bawah pimpinan Adah Djaelani dan seluruh jalur-jalur ke bawahnya, sangat dikuasai dan atau dalam genggaman intelejen/ABRI, maka apalagi yang mengaku NII pada masa kini! Logikanya adalah, jangankan NII yang tidak ada apa-apanya saat ini, NII di masa Kartosoewirjo saja tak mampu menolak kehadiran intelejen/TNI atau TRI, yang jaringan dan jalinannya kemudian membelit dan merusak citra TII, dengan sukses akhir berhasil meringkus pimpinan tertinggi NII Kartosoewirjo, dan menggiring sebagian besar pengikutnya bersujud ke pangkuan ibu pertiwi,(13) sampai dengan menanda tangani surat pernyataan pengakuan bersalah kepada TNI-RI, menyalahkan NII termasuk kepada Kartosoewirjo sang Imam.
Akan halnya perkembangan NII yang nyaris berjalan tanpa pembinaan Tarbiyyah Islamiyah di dalamnya, tentu saja hal tersebut menjadikan masing-masing ummat atau anggota NII merasa bebas untuk melakukan pencerahan ilmu dan amal. Munculnya secercah kesadaran ini saja telah membuat porak-poranda struktur NII, maka terjadilah kemudian apa yang namanya perpecahan dalam NII.
Di awali oleh sikap Muhammad Sobari dkk melepaskan diri dari struktur kepemimpinan Adah Djaelani, disusul oleh Helmi Aminuddin (putra Danu Muhammad Hasan intelejen sipil binaan Ali Moertopo) yang kemudian bergabung dan menjadi agen gerakan Ikhwanul Muslimin qiyadah Sa’id Hawwa’ yang ketika itu bermukim di Iraq. Sedangkan Haji Karim Hasan dan kawan-kawan mengambil sikap dan jalan yang berlainan pula.
Dari perpecahan itu akhirnya masing-masing kubu berjalan saling menolak, bahkan menafikan. Pak M. Sobari berkiprah melalui aktivitas dakwah dan akhirnya memiliki komunitas kelembagaan bernama Thoriquna. Sedangkan Helmi Aminuddin berkiprah dengan manhaj Tarbiyah Ikhwanul Muslimin.
Haji Abdul Karim Hasan menempuh jalan lain melalui aqidah (paham) yang sesat dan menyimpang, yaitu aliran Isa Bugis, akhirnya berhasil membangun komunitas LK (Lembaga Kerasulan) yang kemudian menjadi NII KW-9 atau NII Abu Toto. Akhirnya Abu Toto menjadi Imam NII faksi Adah Djaelani Tirtapraja setelah menerima posisi jabatan Imamah dalam NII atas penyerahan Adah Djaelani. Sejarah NII struktural (sabilillah) pun akhirnya kembali terpecah, namun komposisi penguasaan lapangan, tercatat NII Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang boleh dibilang lebih menonjol (mayoritas) dibanding faksi lainnya.
Catatan kaki:
(9) Baca juga pengakuan Bapak Mohammad Soebari paba Bab II.
(10) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kini Ketua AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
(11) Irfan Suryahardy Awwas kini Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
(12) Kini Aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
(13) Untuk lebih jelasnya silakan baca pengantar buku Al Chaidar “Sepak Terjang KW-9 Abu Toto,” yang ditulis oleh Mufry.
Sumber: Buku “Pesantren Al-Zaytun Sesat: Investigasi Mega Proyek dalam Gerakan NII” oleh Umar Abduh, Jakarta.
Add comment April 25, 2005
Kawan Al Zaytun, DI-TII KW-IX
Bismillahirohmannirrohiem,
Di dalam sistem islam dan kamus islam tidak ada
istilah “islam sesat”, karena jelas bagi siapa saja
yang tidak tidak mengakui Allah dan rosul atau
utusannya maka dia adalah orang yang dilaknat Allah.
Jadi jelas bahwa islam adalah islam, orang yang
mengakui di luar sistem Allah dangan bukti Al-qur-an
maka dia bukan sesat tapi telah keluar dari sistem
islam.
Lain halnya jika kita mengatakan “orang sesat”, itu
mengartikan bahwa si manusianya yang sesat akibat
bujukan iblis dan bukan islamnya yang sesat. Dengan
kita mengatakan islam sesat, secara tidak langsung
kita telah menghakimi bahwa islam adalah sesat dan
sistem di luar islam tidak sesat.
Istilah “Islam Sesat” justru lahir dari mulut orang
yang berada di luar sistem islam alias kafir, yahudi
dan nasrani, dan celakanya kalimat ini juga malah
banyak ditiru, ditelan mentah-mentah dan digaungkan
oleh orang-orang yang mengaku dirinya faham dan
mengerti Al-qur’an.
Sistem Islam sudah sangat jelas sekali diperuntukkan
bagi manusia dengan Al-quran sebagai pedoman yang
multidimensi, dari tingkatan filosofis, teori sampai
praktek sangat mudah sekali untuk dijabarkan oleh
manusia. Namun sayangnya manusia sendiri yang membuat
Al-quran agar sulit dipahami dan dipraktekkan, bahkan
pada tingkat yang lebih parah lagi Al-quran dalam
bentuk ‘kitab’ menjadi barang pusaka yang sakral dan
harus dikramatkan. Seringkali kitab Al-quran
diletakkan dilemari yang mahal harganya dan tidak
boleh dibuka atau disentuh karena khawatir nilai
kramatnya akan hilang. (pendapat seperti ini
seringkali dimanfaatkan oleh lawan-lawan DI-TII KW-IX
dengan menjungkirbalikkan kata-kata bahwa Al-quran
boleh diinjak-injak dibakar dan sebagainya).
Dengan Al-quran yang multidimensi tersebut, maka
seluruh jagad raya dan isinya sudah termuat di dalam
al-quran. Maka manusia banyak yang mulai
menspesialisasikan dirinya dengan Al-quran, ada yang
menjunjung tinggi teknologi, tata negara/tata
masyarakat, hukum/syariat, pengobatan dan banyak lagi.
Namun disayangkan banyak manusia tergoda untuk menjadi
sombong dengan menganggap bahwa dimensi Al-quran yang
dikuasai adalah yang paling benar. Misalnya, dimensi
Al-quran saya lebih benar daripada dimensi Al-quran
milik si Fulan bin Bulan, hingga akhirnya terjadilah
kondisi seperti dimana banyak bermunculan
aliran-aliran seperti Tasauf, Si’ah, Suni, Jamaah,
ahmadiyah (maaf ini sebagai contoh) dan sebagainya
yang cenderung menjadi egois. Lebih parahnya, satu
kelompok menganggap kelompok lain sesat hingga
akhirnya saling sumpah menyumpah, akhirnya
paling-paling “rumput yang bergoyang” saja yang tidak
sesat.
Dengan demikian sistem islam merupakan sebagai satu
mekanisme yang bekerja secara sempurna, saling
mendukung dan tidak berbenturan karena seluruh dimensi
Al-quran bermuara pada satu yakni Allah. dalam sistem
islam, justru aliran-aliran dan paham-paham semua
bermuara dari Al-quran, sehingga setiap manusia
semakin memahami Allah.
Kalau kita menyebut Dien (sistem), maka kita juga akan
teringat dengan runtuhnya Negara Islam Turki tahun
1925. Saat itu Kemal Ataturk memproklamirkan
pemisahaan sistem islam dari negara Turki, syariat
dilakukan oleh pribadi-pribadi dan negara memiliki
sistem pemerintahannya sendiri dan itu berlaku sampai
hari ini.
Hal ini bisa terjadi karena adanya sokongan kuat dari
pemikir-pemikir kafir pada saat itu seperti Halide
Edib Honoum, Captain Amstrong, Stephen Ronart dan
sebagainya yang jalas-jelas menyokong pemisahan sistem
pemerintahan negara dengan sistem islam. Hingga
akhirnya bagi pihak barat Kemal Ataturk dianggap
sebagai pahlawan, karena berani memisahkan islam dari
pemerintahan Turki dan sebagai imbalannya negara ini
sampai sekarang sangat banyak mendapat bantuan ekonomi
dari barat.
Mengapa Negara Islam Turki bisa ambruk, padahal
negara-negara yang berada di bawah panyungnya seperti
Mesir, Afrika, Jazirah Arab, Melayu masih setia
mendukung. Hal ini terjadi justru karena rakyat Turki
sendiri sudah tidak mau lagi menopang ekonomi negara
melalui sistem islam dan mensubsidi negara-negara di
bawah payungnya. Ditambah lagi dengan tekanan dan
perang yang berlangsung lama antara Islam melawan
kafir. Keadaan inilah yang membuat Negara Islam Turki
runtuh dan telah dilupakan orang.
Hingga akhirnya manusia menjadi alergi mendengar
sistem islam sebagai fondasi negara, bahkan lebih
kasar lagi pencetus ide negara islam sebagai islam
sesat dan orang gila. Tidak heran bila Alm.
Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, Ayatollah Khomaini,
Khadafi, dan terakhir GAM, Alkhaeda, Moro dan
sebagainya dicap oleh penentang sistem islam adalah
teroris dan islam sesat.
Stempel “Islam Sesat” inilah yang selalu
dihembus-hembuskan dan dipropagandakan untuk mengikis
habis gagasan-gagasan sistem islam sebagai fondasi
negara. Hingga akhirnya kita sekarang tidak sadar dan
mungkin juga sadar telah menggunakan “Islam Sesat”
stempel untuk menyingkirkan lawan-lawan di luar aliran
atau kelompoknya. Nauzubillah Minzalik.
4 comments April 25, 2005
AL ZAYTUN GATE
Telah Terbit
Buku Karya UMAR ABDUH
AL ZAYTUN GATE
Investigasi Mengungkap Misteri Dajjal Indonesia
Membangun Negara Impian Iblis
Pesanan langsung hubungi:
LPDI-SIKAT
021 – 8299979, 0815 165 3315
Kompleks Mesjid Al Ihsan
Proyek Pasar Rumput
Jl. Sultan Agung, Manggarai
Jakarta Selatan
241 halaman + lxxii
Harga Rp 30.000 per eksemplar
Add comment April 25, 2005
Zaytun, Lambang Keberhasilan Islam
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ukhti IDA SURYANI, untuk kali ini saya bisa menarik kesimpulan, bahwa anda
kemungkinan besar adalah aktivis (anggota) Islam Jama’ah alias LDII, atau
setidaknya bersimpati kepada gerakan tersebut.
Anda mengatakan, “…memangnya belajar agama Islam itu cukup lewat milis …???”
Artinya anda sendiri menyadari keterbatasan milis sebagai forum belajar (ttg
Islam). Oleh karena itu di milis ini yang hanya “sekedar” memberikan informasi
ttg adanya ajaran sesat yang membawa-bawa nama dan simbol Islam, tidak
sepatutnya anda tuntut untuk menjadi “institut” yang memberikan kurikulum
lengkap.
Soal kiai yg anda sebut, tentu maksud anda adalah Bambang Irawan, yang pernah
menjadi tangan kanan (orang kedua) tokoh utama Islam Jamaah Nur Hasan. Soal
apakah Bambang punya sakit hati pribadi krn tidak diangkat sebagai Imam di
kerajaan sesat Islam Jamaah, itu urusan pribadi beliau dengan IJ, dan hanya
Allah yg tahu rahasia hati seseorang.
Kesan “kasar” yang anda peroleh dari makalah yang beliau tulis, itu belum
seberapa. Dan itu pun sudah mengalami proses editing, jadi sudah dibuat agak
lunak. Kalau anda bertemu dengan orangnya, mendengarkan ceramahnya secara
langsung, niscaya anda akan lebih terkejut lagi, karena unsur “kasar” akan lebih
pekat dirasakan.
Dan itu adalah urusan pribadi beliau. Karakter “kasar” atau tidak itu bukan
titik perhatian kami di dalam menjalankan peranan sebagai “informan” kepada
ummat ttg adanya ajaran sesat yang mengatas-namakan Islam. Sikap Bambang “kasar”
atau tidak, tidak merubah kesesatan ajaran Islam Jamaah alias LDII.
Sikap atau karakter “kasar” Bambang, menurut penilian saya berasal dari sifat
bawaannya yg memang “kasar” ditambah lagi dengan doktrin yang ia terima sebagai
anggota Islam Jamaah dulu. Salah satu doktrin Islam Jamaah setahu saya adalah
boleh bersikap kasar kpd siapa saja yang bukan komunitas Islam Jamaah. Bahkan
lebih dari kasar pun boleh dilakukan, karena di luar anggota IJ adalah orang
kafir.
Dari sikap “kasar” Bambang itu, kita sebenarnya telah menemukan bukti, bahwa
meski ia telah bertobat dan keluar dari Islam Jamaah, namun akar doktrin IJ
belum tercerabut tuntas, artinya masih mencengkeram di dalam kepribadiannya.
Apalagi bila bakat dasar ybs memang sudah “kasar”…, tentu akan lebih lama lagi
pengaruh doktrin IJ itu hilang dari sistem kepribadiannya.
Salah satu doktrin IJ lainnya adalah, bahwa Islam yang haq itu adalah Islam yang
diajarkan langsung oleh keluarga (keturunan) Nur Hasan Ubaidah Lubis (Madigol).
Ia mengklaim dirinya keturunan langsung nabi Muhammad SAW. Sehingga meski si
Bambang ilmunya sudah tinggi, namun karena ia bukan keturunan Madigol (berarti
bukan keturunan Nabi Muhammad SAW), maka ia tidak berhak menjadi Imam. Doktrin
ini ada kemiripan dengan konsep AHLUL BAIT yang dikenal di kalangan syi’ah.
Jadi, si Bambang itu “kasar” atau tidak, itu urusan dia dengan ummat dan Allah.
Yang jelas, tugas kami adalah memberikan informasi ttg ajaran Islam Jamaah alias
LDII yang memang sesat sampai sekarang!
Untuk akh DEDI WIBOWO, sebelumnya saya perlu koreksi pernyataan anda, bahwa saya
belum pernah menjadi petinggi NII (dari faksi mana pun). Saya bergaul dengan
orang-orang NII antara lain ketika kami sama-sama berada di “pesantren” (penjara
Orde Baru). Sampai kini pun saya masih bergaul dengan kalangan NII dari berbagai
faksi.
Apa yang saya lakukan (menerbitkan buku “Pesantren Al Zaytun Sesat” dan
sebagainya) bukanlah perbuatan menjelek-jelekkan Islam atau memfitnah Zaytun.
Buku itu merupakan hasil investigasi, juga testimoni mantan korban. Jadi,
merupakan suatu fakta yg harus disosialisasikan kepada umat Islam, sehingga
tidak semakin banyak yang menjadi korban.
Membuat yg lebih baik dari Zaytun? Setahu saya lembaga pendidikan Islam (bukan
Zaytun) sudah cukup banyak yang kualitasnya lebih baik dari Zaytun, misalnya
Lembaga Pendidikan Al Azhar dan sebagainya. Jadi saya tdk perlu membuat yg lebih
baik dari Zaytun. Justru Zaytun sampai saat ini BELUM TERBUKTI telah menjadi
lembaga pendidikan YANG LEBIH BAIK dari lembaga pendidikan Islam yang ada.
Mungkin anda terkecoh dengan kemegahan gedung Zaytun di tengah padang tandus, di
tengah komunitas miskin di sekitarnya, di tengah pemukiman sederhana yang
mengitarinya. Sebagai lembaga pendidikan, Zaytun belum terbukti lebih baik.
Bahkan sampai saat ini Zaytun menyembunyikan kurikulumnya.
Berdasarkan testimoni mantan korban, ada yang mengatakan, bahwa anaknya setelah
hampir dua tahun bersekolah di Zaytun, tata cara shalatnya tidak benar,
wudhu-nya juga tidak lebih baik, begitu juga dengan kemampuannya membaca
al-Qur’an. Tidak ada perkembangan yang menggembirakan. Artinya, kenyataan yang
ada berbeda dengan promosi yang mereka gembar-gemborkan di berbagai media massa.
Kemegahan gedung Zaytun tidak sebanding dengan kualitasnya sebagai lembaga
pendidikan. Justru seringkali kemegahan merupakan awal kehancuran. Apalagi bila
kemegahan itu berada secara mencolok di tengah-tengah kemiskinan. Terlebih lagi,
bila kemegahan itu didirikan melalui mekanisme tipu daya dan pemerasan terhadap
ummat yang awam dengan dalih DEMI ISLAM dan tegaknya DAULAH ISLAM (Negara Islam
Indonesia).
Bagi kami, kemegahan Zaytun adalah lambang keberhasilan musuh Islam menipu
ummat, menipu tokoh Islam (termasuk tokoh ICMI spt Adi Sasono), memeras ummat
dengan dalih demi kepentingan Islam dan berdirinya negara Islam kelak.
Cobalah anda baca kembali beberapa testimoni mantan korban NII KW9 Al-Zaytun
yang pernah dipublikasikan di milis ini. Atau, tunggu testimoni mantan korban
lainnya di milis ini.
Wassalamu’alaikum wr. wb
Add comment April 25, 2005
Untuk Penikmat AL Zaytun
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ukhti Ida, mohon maaf respons saya memang agak terlambat, karena saya harus
mempersiapkan diri mensosialisasikan buku “Pesantren Al Zaytun Sesat” ke
berbagai tempat. Pagi ini ada acara bedah buku “Pesantren Al Zaytun Sesat” di
Indramayu.
Sebenarnya jawaban utk Ida sudah disiapkan, namun karena computer kami mengalami
gangguan sehingga tidak bisa segera meresponse, dan untuk bisa tetp posting ke
milis, saya menggunakan jasa warnet.
Milis Islam sesat hanya membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ajaran sesat
yg membawa-bawa nama Islam. Belum tentu ajaran mereka itu Islam yg haq.
Untuk mengetahui Islam yang haq, anda bisa dapatkan di berbagai milis. Di
Yahoogroups saja bisa anda temukan ratusan milis yang menyampaikan Islam yang
haq, belum lagi di luar Yahoogroups.. Dua diantaranya yang berani saya
rekomendasikan adalah sabili@yahoogroups.com dan is-lam@….
Jadi, bila Ida ingin mengetahui Islam yang haq berlanggananlah milis tsb. Di
milis ini, hanya akan dibahas ajaran sesatnya saja. Dan ini merupakan
satu-satunya milis yg membicarakan kesesatan di dalam Islam.
Bila anda belum puas, hubungi saya di 021 – 8299979 (Mesjid Al Ihsan) atau HP
no. 0812-932-7074.
Untuk Akh Ali Yahya, Islam tdk saja dihina oleh mereka yang bersimbol non Islam
(Kristen dan sebagainya), tetapi juga oleh mereka yang sehari-harinya kita
kenali sebagai “Islam”. Seperti Islam Jama’ah dan sebagainya.
Mereka yg menghina Islam meski ia bersimbol Islam tentu bukan saudara kita.
Jadi, memerangi Al Zaytun bukanlah memerangi saudara sendiri. Bagaimana mungkin
seorang saudara mau memeras ummat Islam dengan berbagai cara untuk membangun
sebuah ma’had yg megah?
Musuh Islam ada dari berbagai sisi. Setahu saya sudah banyak yg memerangi
Kristenisasi dan sebagainya. Sudah banyak yg memerangi kemaksiatan, dan
sebagainya. Saya hanya mengambil peranan yg belum dilakukan org lain, yaitu
memerangi ajaran sesat yang “seolah-olah” Islam, namun ternyata cuma luarnya
Islam dalamnya sama sekali bukan Islam.
Barangkali ada baiknya anda baca posting saya sebelumnya mengenai tujuan milis
ini.
Jazakallah atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Add comment April 25, 2005
Berhati-hatilah dengan kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia
Allah telah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap suatu berita. Bagi ada yang ingin mengetahui buku putih tentang NII (DI/TII) sebaiknya membaca Fakta dan Data Sejarah DI/TII karangan AlChaidar. Buku tersebut banyak dijual di toko-toko buku.
Sesungguhnyalah adanya faksi-faksi bukan berarti NII terpecah. Faksi-faksi itu sesungguhnya mempunyai satu Imam Negara. Namun, dengan adanya lebih dari satu fraksi, ternyata ada celah yang bisa dimanfaat oleh musuh Islam untuk menghancurkan NII dari dalam. Namun kami yakin terhadap janji Allah SWT bahwa Kebathilan pasti akan dikalahkan oleh yang Haq. Untuk itu, tujuan kami mengetengahkan berita ini hanyalah dalam rangka saling menasehati dalam yang haq. Untuk itu, kami mengingatkan kita terhadap kelompok-kelompok yang mengaku akan mendirikan Negara Islam Indonesia bahkan kelompok itu dengan tanpa rasa bersalah menyebut kelompok mereka dengan Negara Islam Indonesia. Mungkin kelompok ini lah yang disebut Al-Chaidar sebagai Waratsatul Mafaasid.
Berikut ciri-ciri kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia :
1. Dalam menda’wahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat. Dan penutup itu baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
2. Para calon yang akan mereka da’wahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah bahkan boleh dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang dinul Islam. Padahal kebanyakan akal merekalah yang berbicara dan bukan diinul Islam yang mereka ungkapkan. Silahkan dialog dengan mereka.
3. Calon utama mereka adalah mereka-mereka yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.
4. Pola Da’wah yang relatif singkat, hanya kurang lebih 3 kali pertemuan, sang calon dimasukkan kedalam anggota mereka. Sehingga yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan rata-rata, para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah sekali. Selama hari terakhir penda’wahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenak lidah mereka hingga sang calon mengatakan siap di bai’at..
5. Ketika sang calon akan dibai’at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikankan mulai Rp. 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.
6. Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya. Dengan alasan Kahfi.
7. Tidak mewajibkan sholat 5 waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di madinah lah justru Rasul benar-benar menerapkan syri’at Islam. Dan justru Rasul wafat beberapa waktu setelah futuh mekkah.
8. Sholat 5 waktu mereka ibaratkan dengan do’a dan da’wah. Sehingga jika mereka sedang berda’wah maka saat itu mereka sedang sholat.
9. Sholat Jum’at diibaratkan dengan rapat / syuro. Sehingga pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka namakan sholat jum’at.
10. Atau untuk pemula, mereka dibolehkan sholat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk 5 waktu sholat.
11. Infaq yang dipaksakan perperiode ( per bulan), sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.
12. Adanya Qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun tak punya uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari Qiradh yang mereka janjikan tak akan pernah kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Qur’an sedemikian rupa sehingga upaya meminta hasil bagi itu menjadi hilang. Apalagi saat ini, mereka menjadikan pesantren Az-Zaitun yang diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, BJ Habibie, itu sebagai alat untuk mengambil uang para pengikutnya.
13. Zakat yang tidak sesuai dengan syari’at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka mensejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafi’kan syari’at yang sesungguhnya.
14. Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebetulnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan ‘infaq’ padahal pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan (saking kelaparannya, dia melakukan shaum Daud. Bukan karena sunnah tapi memang enggak ada barang yang mesti dimakan)
15. Belum berlakunya syari’at Islam dikalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman apapun.
16. Mengkafirkan orang yang diluar kelompoknya bahkan menganggap halal berzina dengan orang diluar kelompoknya.
17. Dihalalkannya mencuri / mengambil barang milikorang lain (mencuri).
18. Menghalalkan segala cara demi tercapai tujuan spt menipu / berbohong meskipun kepada orang tuanya sendiri.
Na’udzubilaahi min dzaalik. Jadi, bisa kita lihat dan kita nilai, sejauh mana omongan mereka dan gerak mereka yang katanya ingin berdinul Islam itu, tapi akhlaq dan perbuatannya jauh sekali dari diinul Islam. Berhati-hatilah saudaraku dalam mengambil yang haq. Data tersebut adalah hasil yang kami peroleh dari orang-orang yang pernah mengalaminya yang mereka itu sekarang ini telah bergabung dengan kami dalam wadah Negara Islam Indonesia yang sesungguhnya. Kami mohon maaf jika memang berita ini dianggap menyinggung perasaan pihak-pihak tertentu.
Mudah-mudahan informasi ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin mencari NII yang sebenarnya. Dan mudah-mudahan mereka yang mengalaminya segera menyadari kesalahannya dan segera bertobat kepada Allah SWT. Yakinlah bahwa yang haq hanya akan tegak dengan cara yang haq pula.
Dan bagi rekan-rekan yang memiliki pengalaman yang serupa atau memiliki pengalaman yang lainnya atau ingin berdiskusi lebih jauh tentang NII, kami harap dengan sangat untuk menginformasikannya kepada kami melalui syuro_n11@yahoo.com. Segala informasi yang diberikan Insya Allah bermanfaat bagi kami dan akan kami informasikan kepada ikhwan yang lain melalu homepage ini. Dan homepage ini akan senantiasa di-update setiap saat. Ddan mudah-mudahan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. Amiin.
Wallahu a’lamu bishawab.
6 comments April 25, 2005
AL ZAYTUN, HALAL MERAMPOK & MENIPU
Menghalalkan merampok, mencuri, menipu, memeras, merampas atau melacur asalkan demi kepentingan Negara atau Madinah. Hal tersebut disandarkan pada filosofi sesat atas kepemilikan wilayah teritori Indonesia oleh Negara Islam Indonesia, atas dasar Proklamasi NII dan ke-Khalifahan Kartosoewirjo pada tahun 1949, serta dalam rangka aplikasi atau praktek dari ayat “Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang Shalih”.
Dengan menekankan keyakinan bahwa pada dasarnya terhitung sejak proklamasi berdirinya NII tahun 1949, maka seluruh wilayah Indonesia beserta isi dan kekayaannya adalah milik NII dan segenap warganya. Namun karena hal itu kini dirampas dan dikuasai oleh Rezim Pancasila beserta rakyatnya, oleh karenanya wajib hukumnya mengambil kembali harta kekayaan milik NII tersebut dengan jalan apapun untuk kepentingan Negara Islam Indonesia.
Inilah dasar falsafi adanya prinsip “tubarriru al washilah” menghalalkan segala cara. Doktrin ini diyakinkan melalui penyampaian secara berulang-ulang dalam materi tazkiyah untuk umat dan dalam acara irsyad untuk para mas’ul.
Melakukan perubahan terhadap ketentuan-ketentuan yang definitif dalam bidang Syari’ah dan Fiqh, berdasarkan selera nafsu dan logika akal yang lemah, seperti masalah Zakat Fithrah, ‘Udhiyah atau Qurban, Qiradl dan Infaq serta Shadaqah yang bentuknya macam-macam, dan sangat mengada-ada, yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat Islam mana pun. Bahkan mungkin bisa dibilang, apa yang ada pada Islam seluruhnya diubah total tanpa terkecuali. Dalam pemahaman dan praktek zakat fithrah serta qurban yang telah dilakukan oleh Abu Toto dan komunitas NII Al-Zaytun adalah mengubah makna hadits-hadits yang sebenarnya mu’tabar, sharih, bayyin dan definitif, antara lain:
“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah satu sho’ dan korma atau satu sho’ dari gandum atas hamba dan orang merdeka laki-laki dan perempuan, yang kecil dan yang besar dariMuslimin, dan Nabi perintahkan supaya diberikan sebelum orang keluar shalat Ied.”
“Dari Ibnu Abbas ra berkata: Telah diwajibkan oleh Nabi saw zakat fithrah itu sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari laghwi dan rafats, dan untuk makanan bagi orang-orang orang-orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikan sebelum shalat ‘led maka zakat itu, zakat fithrah yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikan sesudah shalat Ied maka ia dianggap shadaqah dari beberapa shadaqah biasa (zakat fithrahnya tidak sah)”. (HR Ibnu Majah).
Dari kedua hadits di atas sesungguhnya baik dalam makna maupun maksud yang dikandung sebenarnya sudah sangat jelas dan definitif, sama sekali tidak ada nuansa atau kandungan maksud yang bersifat musytarak ataupun majaz. Akan tetapi oleh Abu Toto, terhitung sejak ia menjadi orang pertama dalam struktur NII KW-9 hingga NII Al-Zaytun sekarang dengan tanpa merasa malu, segan dan bersalah, telah melakukan pemutarbalikan terhadap makna dan maksud kedua hadits di atas, dengan cara memasukkan pada dua hadits di atas suatu filosofi analogis sebagai berikut:
“Jika kita membersihkan jasad lahir saja setiap hari dengan sabun dan alat-alat pembersih lainnya, memerlukan sejumlah biaya: Maka mestilah minimal sejumlah itu yang diperlukan membersihkan jiwa kita yang mungkin telah penuh noda selama satu tahun.”
Nah, dengan landasan filosofi analogis inilah Abu Toto dan komunitas NII serta ma’had Al-Zaytun berhasil mengubah (memelintir) makna dan maksud hadits yang telah sharih, bayyin dan definitif tentang praktek pelaksanaan zakat al-fithri menjadi hanya terfokus kepada aspek pembersihan dosa sebagaimana yang dimaksudkan filosofi analogis itu.
Pada akhirnya yang terjadi dalam praktek pelaksanaan zakat fithrah dalam komunitas dan santri ma’had Al-Zaytun adalah munculnya pemahaman bahwa zakat fithrah yang benar adalah zakat yang dilakukan berdasarkan kesadaran dan kalkulasi serta semangat membersihkan diri dari dosa-dosa selama setahun. Maka menjadi tak mengherankan bila dalam praktek zakat fithrah yang berlangsung di ma’had Al-Zaytun seperti ajang perlombaan.
Dalam masalah qurban pun hal yang sama juga dijalankan tanpa merasa malu, segan dan takut terbongkar atas aksi pemelintiran bahasa maupun maksud dari pensyari’atan qurban tersebut. Dalam artikel yang dimuat majalah Al-Zaytun yang dikutip di bawah ini para pembaca dapat mengikuti dan mempelajari bagaimana komunitas Al-Zaytun melancarkan pelintiran maksud terhadap sesuatu data sejarah yang sudah mu’tabar, sharih, bayyin, definitif dan pasti.
Demikian pula halnya dengan praktek pengelolaan atau pendistribusian hasil pemungutan zakat maupun qurban. Abu Toto, NII KW-9 atau NII Al-Zaytun menciptakan pemahaman baru dengan menetapkan bahwa seluruh hasil penerimaan dari pemungutan zakat fithri dan qurban tidak harus didistribusikan kepada para masakin, bahkan dalam pemahaman dan keyakinan Abu Toto, NII KW-9 dan NII Al-Zaytun sekarang ini pendistribusian yang tepat dan benar adalah untuk membangun sarana pendidikan umat Islam serta untuk kepentingan Daulah.
Praktek pemungutan dan penetapan nilai zakat fithrah maupun qurban yang sesat dan menyesatkan itulah yang justru diyakini dan dipahamkan sebagai doktrin yang benar dalam mengelola dan mendistribusikan sumber-sumber dana yang disyari’atkan Allah secara tepat, efektif dan efisien. Celakanya kesesatan dan penyimpangan itu justru dinisbatkan pada suatu kebohongan yang disandarkan pernah terjadi dan dilaksanakan pada zaman Rasulullah SAW. Kebijakan yang semakna dengan masalah ini sebenarnya sudah dilakukan Abu Toto dalam bentuk qoror sejak tahun 1992.
Selain itu kebijakan lain yang juga dianggap dan diberlakukan sebagai layaknya hukum syari’at, adalah istilah istimrar (keberlanjutan) baik yang berkenaan dengan zakat fithrah maupun ketentuan yang berhubungan dengan masalah dan sebagai sumber-sumber dana lainnya. Seperti adanya praktek istimrar harakah ramadlan (zakat fithrah) yang apabila seorang muzaki wajib pada waktu wajib bayar tidak atau belum memiliki dana yang cukup sesuai dengan yang ditentukan, maka ia dikenakan nafaqah istimrar (wajib mencicilnya) hingga lunas sesuai dengan yang telah ditentukan. Oleh karenanya nafaqah istimrar ini pada akhirnya dilaksanakan sebagai angsuran wajib yang harus dibayar oleh seorang warga NII, yang itemnya tergantung pada sejauh mana seseorang itu belum mampu melunasi kewajibannya terhadap Daulah.
Penggunaan bahasa dan istilah Islam atau hukum syari’at oleh Abu Toto dan NII KW-9 hingga NII Al-Zaytun sekarang ini memang tetap diperlukan dan tetap dipakai, namun harus membuang ruhnya. Artinya, faham, maksud dan segala konsekuensi logis yang terkandung dalam bahasa atau kaidah syari’at Islam yang definitif dan baku tersebut itulah yang dinafikan atau diganti menurut versi mereka. Itulah Abu Toto yang mendekati dan bersentuhan dengan Islam, tidak menggunakan sikap amanah dan kejujuran, iman serta kesadaran sebagai hamba dan makhluq-Nya, akan tetapi Abu Toto mendekati dan berinteraksi dengan Islam justru menggunakan nafsu dan kesadarannya sebagai manusia, dan sekali lagi bukan sebagai hamba-Nya.
Sebagai bukti adanya kesamaan antara Abu Toto (nama yang dahulu dipakai di NII KW-9) dengan AS Panji Gumilang (yang sekarang menjadi Syaikh Al-Ma’had Al-Zaytun), yaitu kesamaan pada statemen serta faham yang dianut dalam melakukan perubahan terhadap ruh disyari’atkannya zakat fithrah. Dalam Majalah bulanan Al-Zaytun edisi III Maret tahun 2000, yang diterbitkan Ma’had Al-Zaytun, antara lain dinyatakan: “… Secara individu zakat fithrah dan berqurban adalah sarana pembersihan diri dan pendekatan diri kepada sang Pencipta Allah SWT. Secara sosial zakat fithrah dan berqurban adalah sarana untuk mensejahterakan umat bahkan pada zaman Nabi Muhammad dana zakat fithrah dan qurban yang terkumpul telah sanggup menguatkan dan mebesarkan Negara Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah…” [14]
Masih dari sumber yang sama, ditemukan pernyataan sebagai berikut: “Pada kesempatan ‘Ied al Fithri kali yang pertama di awal Januari tahun 2000, Ma’had Al-Zaytun telah mengawali langkah yang tepat sekaligus berani, untuk mengelola sumber dana dalam Islam, yakni dengan mengaktualkan nilai zakat fithrah, ini dilakukan bukan untuk mencari sensasi, tapi semata-mata untuk meningkatkan kualitas umat. Zakat fithrah tidak lagi dihargai dengan 3,5 liter beras. Karena dosa setahun sudah tidak wajar lagi dibersihkan dengan 3,5 liter beras, dan sangat ironis jika hanya dengan 3,5 liter beras kita bercita-cita untuk mensejahterakan umat…” [15]
Sikap dan pandangan serta praktek zakat fithrah yang menyimpang sebagaimana di atas yang diterapkan pada para santri Al-Zaytun, tetap berjalan dan bahkan semakin parah pada Ramadlan tahun ini. Sebagaimana yang dilansir sebuah media antara lain: “Sumber dana lain yang bakal dipergunakan untuk pengembangan pesantren antara lain zakat fithrah. Zakat yang lazim ditunaikan umat Islam menjelang Iedul Fithri. Selain itu, pimpinan Ma’had Al-Zaytun sempat mengumumkan kepada 3.200 santri tentang jumlah pembayar zakat fithrah terbesar yang dilakukan seorang santri dari Nusa Tenggara Timur sebesar Rp 1 juta, pembayar zakat fithrah terbesar kedua diraih oleh santri asal Gorontalo senilai Rp 500 ribu, demikian juga diumumkan pembayar zakat fithrah terkecil sebesar Rp 10 ribu” [16]
Sedangkan menurut pemberitaan media Al-Zaytun sendiri malah menggambarkan keberhasilan yang fantastis dari gerakan Ramadlan yang mampu menghasilkan pemasukan uang sebanyak 5 miliar rupiah lebih.
Eksploitasi (pemerasan) maupun eksplorasi (penggalian) dana dan program pemiskinan umat Islam (korban jeratan rekrutmen) dengan mengatasnamakan zakat, tazkiyah baitiyah, shadaqah tathawwu’, infaq sabilillah, khijanah tajwidiyah, qiradl,shadaqah (jauka dan isti’dzan, nikah, tahkim, musyahadah dan tartib) maupun Kaffarat dan lain sebagainya telah mencerminkan adanya motif manipulasi/penipuan yang sangat merugikan dan akhirnya meresahkan umat serta merusak kesucian dan keluhuran ajaran Islam. Motif politik yang bisa diprediksi adalah untuk membuat rakyat menjadi fobia dan trauma terhadap umat Islam. Sehingga, pada suatu saat nanti ketika perjalanan da’wah dan politik umat ke arah persiapan menuju strukturalisasi Islam, yang dipastikan sangat membutuhkan paitisipasi aktif secara ekonomi dan lahir bathin dari umat Islam, tidak didukung oleh rakyat yang fobia dan trauma tadi.
Pengorbanan para korban KW-9 Abu Toto Abdus Salam Panji Gumilang melalui program dan qoror-qoror-nya, sangat luar biasa habis-habisan secara lahir dan bathin. Rumah, harta benda, perniagaan, pekerjaan, kemampuan intelektual diserahkan total kepada lembaga jama’ah NII. Yang tersisa hanyalah kemiskinan dan kebodohan serta kebingungan. Di antara para korban NII Abu Toto, ada yang terkena jerat program qiradl dan tabungan, sampai sebanyak 250 gram emas, bahkan salah seorang pejabat Bank Indonesia (kini mantan) sampai rela menyerahkan 2,5 kg emas. Dua orang puteranya pun sempat pula menjadi perampok, yang karenanya mereka harus merelakan tulang iganya putus lantaran menyelamatkan diri dari kejaran massa, hanya karena mengejar target setoran yang harus segera dibayarkan kepada NII (Negara Impian Iblis) pimpinan Abu Toto.
Bila kalkulasi dilakukan atas seluruh program pemiskinan NII KW-9 Abu Toto terhadap umat NII, sejak para korban masuk dan dimusyahadahkan hingga mereka sampai bosan, sadar dan lantas keluar, tentu akan mendapatkan jumlah yang fantastis.
[14] Sebuah klaim dan pernyataan yang sama sekali sangat menipu dan menyesatkan, karena baik hadits maupun atsar Sahabat serta kitab Sirah (Tarikh Islam) tidak ada satu pun halaman yang menceritakan adanya kejadian tersebut. Komunitas Al-Zaytun memang betul-betul sangat keterlaluan dalam menipu dan berbohong dengan mengatasnamakan Rasul dan Islam. Kutipan tersebut berasal dari artikel pada kolom renungan hikmah dengan judul “Memanfaatkan Ied Tahun 2000” yang ditulis oleh salah seorang guru di Ma’had Al-Zaytun, dan dimuat pada majalah Al-Zaytun edisi III Maret tahun 2000 hal. 10-11.
[15] Pernyataan ini sungguh sangat kurang ajar dan betul-betul mulhid.
[16] Pos Kota, edisi 23 Desember 2000, hal. 8. Dan sebagaimana dimuat dalam MB Al-Zaytun edisi 12-2000.
6 comments April 25, 2005
NUTUPI BANNER DI BLOGSPOT
NUTUPI BANNER DI BLOGSPOT selanjutnya klik [sini] yaa …. ![]()
Add comment April 22, 2005
TANGKLET DEPOT DIGICAM @ JOGJA
Kagem Rencang-²
Di seputaran Ngayugyokarto
Kulo nyuwun pawartos babagan Depot wonten Yugjo mriki ingkang sadean Kamera Dijital kanti komplet : merk, model, tipe, lan (syukur² ingkang radi miring) reganipun. Matur sembah nuwun.
Kormat kulo,
Bahtiar
Add comment April 20, 2005
KONSPIRASI BIN DENGAN AL ZAYTUN
Seratus anggota Laskar Sabillilah dengan menumpang tiga metromini mendatangi kantor Cedsos (Center for Democracy and Social Justice Studies) guna memprotes tuduhan konspirasi intelijen antara kelompoknya dengan gerakan islam radikal.
”Kami sudah melaporkan fitnah ini ke Polda dan akan kami tuntut secara hukum mengenai pencemaran nama baik yang dilakukan oleh CeDSos terhadap pimpinan Laskar Sabillilah, Nur Hidayat Assegaf,” ujar salah seorang delegasi yang menemui Direktur Cedsos, John Mempi, di Jakarta, Jumat, (12/12).
Dalam pernyataan sikap Laskar Sabillilah yang ditandatangi A.Taufiq diungkapkan bahwa Umar Abduh yang menulis buku Konspirasi Intelejen dan Gerakan Islam Radikal dan diterbitkan oleh Cedsos itu, adalah pendusta besar dan menyebarkan fitnah tidak berdasar.
Umar Abduh, mantan napol kasus Imran, Cicendo dan Woyla dan penulis buku Al Zaytun Sesat dan Al Zaitun Gate, dikatakan sebagai provokator dan teroris. ”Kami menuntut agar ia di tangkap dan diadili dan dihukum dengan hukuman sebagai teroris,” tegas A. Taufiq.
Lebih lanjut Laskar Sabillilah menuntut agar buku Konspirasi Intelejen dan Gerakan Islam Radikal dimusnahkan dan ditarik dari peredaran, karena dianggap sebagai penyimpangan informasi yang mengakibatkan perselisihan.
Umar Abduh ketika dihu-bungi menjelaskan bahwa buku tersebut adalah rangkaian dari fakta-fakta yang didapat dari kliping koran maupun sumber tertulis lainnya yang memang menunjukkan bagaimana keterlibatan intelejen dalam gerakan Islam Radikal. ”Justru perselisihan antar umat Islam dan dengan agama lain dapat dilihat sebagai hasil dari operasi-operasi intelejen tersebut,” jelasnya.
Ia menjelaskan keterlibatan Nur Hidayat dalam Kasus Lampung. ”Dalam salah satu bab pada buku itu memang menunjukkan Nur Hidayat sebagai provokator kasus Lampung yang pernah dipelihara oleh Hendro Priyono sebagai Danrem Garuda Hitam di masa Orde Baru,” jelasnya.
Direktur Cedsos, John Mempi ketika dihubungi menjelaskan bahwa sekarang ini adalah masa keterbukaan, dimana semua file lama yang kelam harus dibuka kembali agar terdapat kebenaran sejarah.
”Ini untuk mempermudah rekonsiliasi nasional sebagai tuntutan sipil strategis. Kami bersedia berdebat secara terbuka demi kejelasan dan penyelesaian semua konflik yang ada,” tegasnya.
Ia melanjutkan memang Cedsos sedang meneliti sampai sejauh apa keterlibatan aparat dalam konflik besar yang ada di Indonesia baik dari masa orde baru maupun sampai sekarang. ”Ini penting untuk menjadi arsip sejarah bangsa ini. Agar generasi mendatang dapat mengantisipasi,” ujarnya.
Add comment April 19, 2005
DUKUNGAN ZAYTUN DEMI NKRI SOEHARTO
Tumbangnya rezim Orba tidaklah berarti bahwa rezim Orba sudah habis.
Seiring dengan wacana reformasi yang telah didengungkan sejak jatuhnya
rezim Orba hingga sekarang tidaklah lantas memberikan hasil yang positif
bagi rakyat banyak. Wacana reformasi kini cuma menjadi retorika semata dan
lagu lama yang setiap hari dinyanyikan namun tidaklah jelas arah dan tujuan
yang dicapainya. Reformasi kini telah menemui jalan buntu.
Para reformis kini mulai jenuh dengan kata reformasi.
Keadaan Indonesia tidaklah menjadi lebih baik bahkan dari hari ke hari
negara kita yang tercinta seolah mengalami musibah yang tidak ada
habis-habisnya. Mulai dari angka pengangguran yang tinggi, larinya para
investor asing, hutang yang kian menumpuk, hingga aksi terorisme yang
sedang marak terjadi.
Namun ada suatu fenomena unik yang lahir seiring dengan jatuhnya rezim
Orba. Fenomena unik ini adalah peristiwa munculnya kekuatan ekstremis agama
yang kian hari mulai berani menunjukkan taringnya. Kekuatan ekstremis agama
mungkin lebih dikenal oleh publik sebagai kekuatan ekstrim kanan, gerakan
fundamentalis, atau kelompok garis keras. Kekuatan ekstrim kanan yang
dulunya berusaha ditekan dan ditumpas habis oleh rezim Orba kini telah
menjelma menjadi kekuatan yang menakutkan, yang memunculkan trauma akan
peristiwa kelam dalam sejarah seperti pemberontakan DI/TII yang bertekad
menjadikan Indonesia sebagai negara Darul Islam. Bahaya laten sebenarnya
yang ditudingkan terhadap wajah komunis oleh rezim Orba rupanya salah
sasaran, kini kita melihat bahwa sebenarnya bahaya laten yang dihadapi oleh
bangsa kita adalah bahaya laten fundamentalis.
Dahulu ditekan kini malah dirangkul, begitulah kira-kira ungkapan yang
cocok untuk gerakan fundamentalis di Indonesia. Semasa Orba, gerakan
fundamentalis diberi cap sebagai gerakan ekstrem kanan yang harus terus
diwaspadai. Kelompok fundamentalis memang berhasil diredam oleh rezim Orde
Baru pada tahun 80-an mulai dari kasus Tanjungpriok, peledakan BCA maupun
peledakan Borobudur, dan kemudian dirangkul dengan mesra pada masa-masa
akhir kekuasaan Orde Baru. Kekuatan Neo-Orba sebagai pengganti Orba yang
telah tumbang kini menggunakan ekstrim kanan sebagai senjata
pamungkasnya. Ini terlihat jelas jika kita mengamati bahwa akhir-akhir ini
ketika kekuatan Golkar sebagai warisan Orba mulai “diserang”, gerakan
ekstrim kanan serta merta terus “bergerak” seolah hendak mengalihkan publik
dan pers dengan aksi-aksi mereka yang menghebohkan, mulai dari aksi
sweeping warga asing, aksi boikot produk AS, aksi pemboman Gereja, dan
segudang aksi teror lainnya yang berupaya menggoyang pemerintahan Megawati
dengan harapan Megawati akan jatuh seperti Gus Dur. Indikasi bahwa kekuatan
Neo-Orba menggunakan ekstrim kanan sebagai “perisainya” semakin kental
mengacu pada peristiwa pemukulan terhadap wartawan yang dilakukan oleh
sekelompok pemuda dari GPK (Gerakan Pemuda Ka’bah) ketika Akbar Tanjung
“diserbu” oleh para wartawan sehubungan dengan kasus Buloggate II yang
sempat membuat publik gempar. Hal ini semakin membuktikan bahwa kekuatan
Orba dengan ekstrim kanan adalah suatu “simbiosis mutualisme” yang saling
menguntungkan kedua belah pihak.
Fundamentalisme Islam di Indonesia memiliki ciri khas yang sangat jauh
berbeda dengan fundamentalisme Islam di negara lain seperti di Pakistan,
Mesir, Turki dan negara-negara mayoritas Islam lainnya, antara lain
dekatnya hubungan mereka dengan kalangan pemerintahan maupun militer.
Faktor inilah yang menjadi sebab utama bahwa adalah sangat sulit untuk
memberantas kelompok ekstrim kanan. Di Mesir, beberapa waktu yang lalu
pemerintah secara tegas menindak keras kedelapanpuluh orang anggota
kelompok garis keras Jamaah Al Jihad dengan menyeret mereka ke Mahkamah
Militer. Tindakan keras dari pemerintah Mesir ini mungkin sangat sulit
dilakukan oleh pemerintah kita misalnya terhadap FPI (Front Pembela Islam)
dan laskar jihad yang memang berstatus sebagai “motor” kekuatan ekstrim
kanan di Indonesia, karena alasan dekatnya kekuatan ekstrim kanan dengan
beberapa pihak tertentu dari militer. Alasan ini menjadi jelas jika mengacu
bahwa memang sebenarnya FPI hanyalah adalah ormas agama binaan militer yang
semasa Panglima TNI dijabat oleh Jenderal Wiranto. Jadi di Indonesia,
gerakan ekstrim kanan memang sudah menjadi kendaraan politik dan militer
yang “sah” dengan maksud mempertahankan hegemoni dari rezim Orba.
Pemerintah Indonesiapun mengalami kesulitan jika harus mencontoh apa yang
dilakukan oleh pemerintah Malaysia dalam upayanya menghadapi gerakan
ekstrim kanan. Di Malaysia, gerakan ini ditekan habis oleh pemerintahan
Mahatir Mohamad dengan alasan bahwa kemunculan gerakan ini akan
membahayakan stabilitas nasional. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad
sendiri dengan berani mengatakan adanya kelompok militan yang berniat
mendirikan negara agama di Malaysia setelah menjatuhkan pemerintah
Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Pemerintah Malaysia menyebut kelompok
ini berniat menyingkirkan Mahathir dan mendirikan negara Islam di Malaysia.
Pemerintah Malaysia juga menuduh kelompok ini mempunyai hubungan dengan
kelompok Al-Qaeda milik Osama bin Laden, yang dituduh terlibat kasus
penyerangan di New York dan Washington pada 11 September. Apa yang
dilakukan oleh pemerintah Malaysia dapat saja dilakukan di negeri Malaysia
dengan melakukan “karantina” terhadap ekstrim kanan namun belum tentu akan
semudah itu jika dilakukan di Indonesia. Di Indonesia, walaupun jumlah
mereka kecil, namun kelompok ini sempat menancapkan kukunya di dalam tubuh
pemerintah Indonesia bahkan di tengah-tengah masyarakat. Merekapun memiliki
akses dana yang cukup kuat untuk mengorganisir kelompok mereka. Salah satu
bukti yakni kemunculan secara tiba-tiba Yayasan Raudhatul Jannah, yayasan
yang akhir-akhir ini secara santer terdengar karena terlibat dalam kasus
penyelewengan dana non bujeter Bulog.
Disinyalir yayasan ini sebenarnya cuma kedok dari suatu gerakan yang ingin
mendirikan Negara Islam Indonesia (DI/TII). Yayasan ini bermarkas di Pondok
Pesantren Mahad Al-Zaytun di Indramayu.
Salah satu hambatan yang ditemui oleh pemerintahan kita dalam rangka
memberantas habis kelompok ekstrim kanan adalah karena mudahnya isyu agama
diletupkan oleh gerakan fundamentalis. Jika mereka hendak diberantas, maka
dengan mudahnya mereka akan menudingsiapa saja yang memusuhi mereka adalah
sama saja dengan memusuhi Islam. Dan saya begitu yakin bahwa tidak ada
seorangpun di Indonesia yang ingin disebut sebagai orang yang anti-Islam.
Mereka dengan cerdik bersembunyi di belakang wajah Islam dan menggunakan
Islam sebagai kuda tunggangan guna memuluskan kepentingan politik dari
kelompok mereka. Kelompok ekstrim kanan akan berkoar bahwa gerakan
anti-fundamentalis yang memusuhi mereka akan dibelokkan maknanya oleh
mereka menjadi gerakan anti-Islam, padahal upaya menumpas kelompok
fundamentalis tidak sama dengan menumpas umat Islam.
Para fundamentalis cuma “serpihan kecil” dari umat Islam, karena pada
faktanya mayoritas umat Muslim di Indonesia adalah Muslim yang moderat dan
toleran. NU sendiri sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan di
dunia adalah ormas agama yang mayoritas pengikutnya berasal dari kelompok
Islam yang moderat, demokratis, dan anti kekerasan yang senantiasa berupaya
menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Ini berbeda sekali dengan ormas agama seperti laskar jihad, FPI, GPI,
beserta elemen-elemen fundamentalis lainnya yang suka melakukan kekerasan
dalam mewujudkan ambisi politik dari kelompoknya sehingga tidak perlu heran
bahwa aksi-aksi mereka sering menjurus ke arah aksi terorisme.
Fundamentalisme pada mulanya adalah “serpihan kecil” dari komunitas umat
Kristen. Gerakan ini adalah gerakan radikal dan militan yang menjaring para
penganut Kristen Protestan dan berkembang di Amerika Serikat di akhir abad
19. Inti gerakan ini adalah mengembalikan ajaran Kristen kepada
asal-muasalnya atau dapat disebut juga
sebagai suatu gerakan reaksioner dalam rangka menentang modernisasi dan
sekulerisasi di AS. Sama halnya dengan Islam, fundamentalisme dalam
Kristen tidaklah mewakili umat Kristen secara keseluruhan. Mereka cuma akan
menjadi kelompok kecil yang selamanya dikucilkan oleh masyarakat banyak
karena eksklusivisme yang ditonjolkan mereka, yang menampakkan sikap yang
selalu anti sosial dan sangat arogan di mata masyarakat.
Fundamentalisme dengan wajah agama manapun apakah itu dengan wajah Islam,
Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha, dan lainnya sama-sama memiliki ciri
yang identik. Mereka sama-sama menggunakan kekerasan dan aksi menghalalkan
segala cara dalam rangka menjalankan “misi suci” yang mereka emban. Atau
dengan kata lain aksi dari kelompok fundamentalis adalah dengan terorisme.
Fundamentalisme Kristen melahirkan Gerakan Patriotik Kristen yang pernah
melahirkan seorang Timothy McVeigh yang menjadi dalang aksi pemboman gedung
federal di Oklahoma. Gerakan rasis dan sektarian dari kelompok Ku Klux Klan
adalah merupakan produk dari fundamentalisme Kristen yang secara jelas
telah menyelewengkan ajaran Kristen dan menebarkan teror rasis terhadap
kelompok ras kulit hitam di AS.
Fundamentalisme Katolik melahirkan kelompok IRA sebagai kelompok separatis
di Irlandia yang sering menebarkan teror pemboman terhadap gedung-gedung
sipil dan pemerintah, juga melahirkan kelompok front pembebasan Basque di
Spanyol yang melegalkan pemboman dan pembunuhan. Fundamentalisme dari agama
Hindu menebarkan ancaman melalui gerakan Macan Tamil di India yang sering
melakukan aksi bom bunuh diri.
Pendek kata, wajah fundamentalisme seperti mata uang yang memiliki dua
sisi, di satu sisi mereka memiliki maksud yang seolah-olah kelihatan baik
karena hendak memurnikan ajaran agama mereka, namun di sisi lain wajah
fundamentalisme adalah kekerasan, pembunuhan, pemboman, dan segudang aksi
teror lainnya guna memuluskan perjuangan mereka. Tentu saja sisi baik dari
gerakan fundamentalis adalah semu semata, karena pada kenyataannya gerakan
fundamentalis tidak pernah memberikan satupun keuntungan bagi masyarakat
banyak selain aksi terorismenya yang meresahkan dan menakutkan.
Fundamentalisme dalam Islam kini mengalami penyempitan makna yakni sebagai
simbol gerakan perlawanan thd kekuatan Barat dan agama Nasrani, bukan lagi
simbol gerakan anti kemajuan dan anti perubahan sebagaimana terjadi pada
mulanya. Ada tiga kelompok atau aliran utama fundamentalis Islam di
Indonesia, yang pertama adalah kelompok Tarbiyah yang berorientasi pada
aliran Ikhwanul Muslimin Mesir, yang kedua adalah kelompok Wahaby yang juga
menamakan dirinya Salafy dan merupakan sebuah gerakan Islam beraliran ultra
ortodoks dan radikal yang kemudian juga melahirkan kelompok laskar jihad,
dan yang ketiga adalah kelompok Hizbut Tahrir yang juga radikal dan
senantiasa berupaya untuk mendirikan negara Islam dan juga mengharamkan
konsep demokrasi. Pada prakteknya, ketiga kelompok tersebut sering bertikai
dalam merebut simpati dari para pengikutnya. Walaupun demikian, ketiganya
memiliki agenda yang sama yakni menginginkan terbentuknya negara Islam
dengan sistim khilafah yang tentu menurut versi mereka masing-masing
termasuk cara mencapai tujuannya. Agenda mereka yang bertekad menjadikan
negara Indonesia menjadi negara agama adalah merupakan suatu langkah bodoh,
langkah mundur, dan langkah yang salah kaprah. Pada kenyataanya, menjadi
negara agama akan menghasilkan lebih banyak mudarat ketimbang manfaat. Jika
mau bukti, cobalah kita lihat Iran. Revolusi Islam yang dipimpin oleh
Ayatollah Khomeini yang dilakukan pada tahun 1979 toh tidak bisa membawa
Iran menjadi negara yang maju dan modern. Revolusi Islam justru malah
menyebabkan kemunduran dalam bidang ekonomi dan sosial. Dan lagi karena
revolusi ini, Iran menjadi negara yang terisolasi karena sikapnya yang
begitu anti terhadap barat dan anti kemajuan.
Ketegangan-ketegangan sosial yang sangat ekstrim sering terjadi akibat
aturan-aturan Islam kolot yang begitu ketat diterapkan. Kita juga dapat
melihat kegagalan Taliban dalam mengatur negaranya.
Afghanistan yang dikelola Taliban cuma menghasilkan sebuah produk negara
gagal di mana HAM dilecehkan, hak-hak wanita dirampas, hukuman yang tidak
manusiawi, dan pemberangusan terhadap konsep demokrasi. Di bawah Taliban,
Afghanistan tidak berhasi membangun negerinya menjadi negara yang makmur,
bahkan sebaliknya Afghanistan cuma dikenal dunia karena negeri ini
menghasilkan 75% dari produk opium di dunia, dikenal karena negeri ini
merupakan “eksportir” pengungsi terbesar di dunia, dan dikenal karena
negeri ini berkoalisi dengan jaringan teroris Al Qaeda di bawah pimpinan
Mullah Omar dan Osama bin Laden. Pertanyaan yang harus dilontarkan adalah
mengapa manusia tidak pernah belajar dari sejarah? Sejarah tidak pernah
berbohong dan telah nyata-nyata membuktikan bahwa negara sekuler jauh lebih
baik daripada konsep negara agama yang sudah usang, yang cuma cocok
diterapkan di “zaman batu”.
Add comment April 19, 2005
ZAYTUN DI MATA AUSTRALIA
If the Indonesian pesantren have drawn some suspicious attention in the past few years — not so much from the Indonesian authorities as from those of the Philippines, Singapore, Australia and the US, as well as from international journalists — this is mostly due to the fact that some highly visible terrorism suspects have a relation with one particular pesantren in Central Java, the PP Al-Mukmin in Ngruki near Solo.[1] Ustad Abu Bakar Ba’asyir, who was one of the founders of this pesantren in the early 1960s and who returned there in 1999 after fourteen years spent in Malaysian exile, has been accused of being the spiritual leader of an underground movement known as Jama’ah Islamiyah, that is believed to be active all over Muslim Southeast Asia and to have carried out a large number of terrorist actions in Indonesia. Several of the perpetrators of the Bali bombing of 12 October 2002, which killed some two hundred people, were associated with a small pesantren in East Java that was established by Ngruki graduates.
Nothing could be more misleading than to extrapolate from ‘Ngruki’ to other Indonesian pesantren. PP Al-Mukmin and the handful of secondary pesantren that it has spawned do not teach terrorism, but both its curriculum and the general culture of this pesantren make it stand out from the mass of pesantren in Java and, for that matter, Indonesia and Southeast Asia as a whole. Before explaining what makes Al-Mukmin so different, it is necessary to give a summary overview of the range of pesantren presently existing.
The traditional pesantren: history
The beginnings of Indonesia’s pesantren tradition may not go back as far as has often been claimed. Certain scholars have claimed that the pesantren represents a continuation of similar schools with resident students in the pre-Islamic period. Islam began to spread among the indigenous population of Java in the fifteenth century, and seventeenth-century Dutch East India Company records mention a ‘priest school’ near Surabaya. However, the oldest pesantren still in existence, that of Tegalsari in East Java, was established in the late eighteenth century. An early nineteenth-century survey of indigenous education indicates that the pesantren then was not a widespread phenomenon and that religious education of a basic level took place informally in the mosque or in the private house of a man more learned than his surroundings. Most of the prestigious old pesantren do not date further back than the late nineteenth century, and many not even that far.[2] Rather than imitating Hindu and Buddhist precursors, the nineteenth and early twentieth-century pesantrens appeared modeled on institutions with which their founders had become familiar during studies in Mecca or Cairo: the riwâq al-Jâwa at the Azhar, the halqa in the Masjid al-Haram, and especially Mecca’s modernized madrasas, the Indian-owned Sawlatiyya (est. 1874) and much later the Indonesian Dar al-`Ulum (1934). The methods of teaching followed those of Mecca and Cairo, and educational reforms in these centres (classrooms, graded classes, shifts in curriculum) gradually spread to Indonesian pesantrens. The curriculum was very similar to that in other Shafi`i regions: Shafi`i fiqh and ‘devotional’ hadith collections dominated, but in the course of the twentieth century the sahih collections of Bukhari and Muslim, Qur’anic commentaries and works on usul al-fiqh gradually became more prominent.[3] The traditional pesantrens are also closely associated with various devotional practices, such as the visiting of graves, and with Islamic healing practices.
Influential reformist currents of the early twentieth century (notably Muhammadiyah, established in 1912, and Persatuan Islam or Persis, 1923) strongly opposed those devotional and ‘magical’ practices as well as the flexibility of fiqh, which they believed should be replaced by recourse to the Qur’an and Sunna. Religious puritanism in Indonesia received a boost when in 1924 Mecca was conquered by the Saudis, who soon began forbidding traditional devotional practices. Together with the abolition of the Caliphate by Mustafa Kemal in the same year, this convinced many pesantren ulama that their form of Islam was under threat, and they established an association to defend it, Nahdlatul Ulama.[4] This was later to become the largest association of Indonesia and perhaps of the entire Muslim world, claiming tens of millions of members. In a recent nation-wide survey, 42% of the respondents indicated that they felt more or less represented by the NU, 12% by Muhammadiyah.[5] The way the questions were framed suggests that those identifying with the NU meant not so much the organization itself as the religious attitudes it is associated with, including an openness to local tradition (and even syncretism), flexibility and tolerance, as opposed to the more principled and puritan, if not fundamentalist, attitudes associated with Muhammadiyah. In the organization NU itself, the pesantren remains the major institutional prop, and the ulama of major pesantrens remain the chief authorities.
Muhammadiyah’s distinguishing mark was the modern school, modeled on Christian missionary schools. Muhammadiyah people spoke of returning to the Qur’an and Sunna but most could only read them in translation — and their actual religious reading consisted of contemporary reformist writers. An effort to bridge the gap between Muhammadiyah religious attitude and traditional pesantren education resulted in the ‘modern pesantren’ at Gontor (established in 1926), which became the example on which later a range of other reformist-oriented schools modeled themselves.[6] The founders of Gontor were not only inspired by reforms in al-Azhar and by the Anglo-Muslim college of Aligarh but also by Rabindranath Tagore’s philosophy of education and his Santiniketan experiment. The didactic methods were those of the modern school, and students were obliged to communicate in either Arabic or English, in order to train them in active mastery of these languages. The religious teaching material continued to include the classical texts of Shafi`i fiqh, however. Gontor took its place between NU and Muhammadiyah; some of its graduates became teachers in NU pesantrens, others in Muhammadiyah schools. Several went on to establish their own pesantren on the Gontor model, or to reform an existing one with their Gontor experience guiding them.
One other pesantren that was to have significant influence on later radical thought was that established by Persis in Bangil. Persis was by far the most puritan of Indonesia’s reform movements and it developed a religious attitude close to that of Saudi Salafism, although not under any notable direct influence from Arabia. Unlike Muhammadiyah, it had little interest in welfare work and it concentrated on efforts to ‘correct’ religious belief and practice. The pesantren it established in Bangil in East Java was long the only one in Indonesia that was deliberately non-madhhab and focused very strongly on the study of hadith.[7]
Integration in the national education system
After Indonesia’s independence, and especially since the transition to the ‘New Order’, when economic growth took on, pesantren education became more streamlined. There are still pesantren where students are tutored in the traditional way, reading out a text individually in front of the teacher, who occasionally makes a few corrections and gives some explanation, but most have also or exclusively classroom teaching now, with a fixed curriculum. And most offer teaching in general subjects besides classical Islamic texts. Many in fact teach a government-approved curriculum consisting of 70 percent general subjects and 30 percent religious subjects and are similar to government-run religious schools known as madrasah; they even can give the same diplomas. The difference between a pesantren and a state madrasah is that the pesantren is a boarding school (although some of the students may live near enough to go home after classes), and that most pesantren now teach primarily at secondary level. (A madrasah ibtida’iyah is like a primary school; madrasah tsanawiyah and `aliyah correspond with lower and higher secondary. Some pesantren offer higher levels that may be called mu`allimin, i.e. ‘teacher training’, or ma`had `ali, a name that suggests university level.) Moreover, in most pesantrens it is also possible to follow exclusively purely religious lessons.
A madrasah diploma does not give access to a proper university, but in independent Indonesia there was one Institute for Higher Islamic Studies that was open to madrasah graduates, and after 1965 the number of such institutes, then called State Institute of Islamic Studies (IAIN) rapidly increased, and there is now one in each provincial capital.
Through the madrasah curriculum and the IAINs, most pesantrens have become integrated in the national educational system and brought under government control. For a significant part of the population this has been a channel for social mobility. Pesantren education was cheaper than education in secular schools, whether private or state, and for some families a learning career in religious school was culturally more acceptable than one in a non-religious environment. Some successful IAIN graduates have been able to switch to a general university for postgraduate studies (mostly in the humanities or social sciences) and made a further career outside the religious sphere; many more found clerical or other jobs in the vast bureaucracy of the Department of Religious Affairs (which oversees all religious education, administers marriages, runs religious courts, organizes the pilgrimage, and administers the collection and distribution of zakat).
Involvement in community development and new discourses
Some pesantren deliberately refused to adopt the standard madrasah curriculum, for a number of different reasons. Some preferred to offer a solid religious curriculum, reading more and more difficult texts that was possible in the standard curriculum — or different religious texts altogether (non-madhhab or Salafi texts). Others did not wish their graduates to become civil servants and teach them more practical knowledge. In the 1970s and 1980s, several pesantrens experimented with teaching agricultural or technical skills besides religious subjects. The pesantren of Pabelan near Yogyakarta, belonging to the Gontor ‘family’, became famous for training its students in skills that could be useful when they returned to their village, and refused to give them diplomas in order to prevent them from becoming just civil servants (although this is what some of its best known alumni actually became); another in Bogor was geared to teach agriculture besides religion.[8] V.S. Naipaul, who visited Pabelan in 1980, caustically asked what use it was to teach village boys to become village boys,[9] but visitors like Ivan Illich were much more upbeat about this ‘alternative’ type of education. Many Indonesian social activists believed that it was precisely this that was needed to bring genuine development to the country and not just economic growth that failed to empower the poor.
In the late 1970s and 1980s, co-operation developed between development-oriented NGO activists and Pabelan and a few other pesantrens whose leading teachers had some social commitment and believed in development from below. The inspiration came again from Indian self-reliance movements, the experiments of Paulo Freire and writings of people like Ivan Illich. In New Order Indonesia, no parties or associations were allowed to organize down to the village level. Pesantrens were virtually the only non-state institutions actually functioning at the grassroots level, and therefore appealed to activists believing in bottom-up development besides or instead of the government’s top-down policies. Students of the Bandung Institute of Technology, prevented from direct political involvement due to new legislation following a wave of student protest in 1978, joined in activities to bring appropriate technology to the rural poor through the pesantren. Western aid agencies — first the German Friedrich Naumann Stiftung, later various other agencies — supported these efforts.[10] In 1984, a major NU congress decided that ‘social activities’, meaning relief and development work, would be one of the organization’s top priorities, and it established several affiliated NGOs that were to engage in these activities.[11] The following two decades saw a dramatic increase in NGO activity in and around the pesantren, which at least provided a considerable number of pesantren graduates with employment — although it is hard to assess the other positive impact of these activities.
The integration of the pesantren in the national education system had another interesting consequence: the emergence of a dynamic and rapidly growing circle of young Muslim intellectuals of pesantren background, who while studying at IAINs were exposed to a range of other intellectual influences, that included social science, philosophy, theology of liberation and Marxism. Partly overlapping with the environment of NGO activists, this diffuse group of young people, sometimes dubbed the ‘progressive traditionalists’, were one of the most surprising and interesting phenomena of the late 1980s and 1990s.[12]
Islam against the New Order
The developments sketched so far took place in the most visible part of the religious spectrum, among groups and prominent individuals who were acceptable to, and themselves accepted in principle (though critically) the policies of the New Order government. There were other circles that had a more conflicting relationship with the regime and resented its policies of social and religious engineering. Two broad groups stand out. One consisted of the most outspoken leaders of the former Masyumi party, reformist Muslim in religious orientation, liberal democrats in political style. The party had clashed with Sukarno over the president’s authoritarian style and its leaders had taken part in an American-supported regional rebellion in the late 1950s. Suharto never allowed the party to resurface and mistrusted its most prominent leaders, the best known of whom was Mohammad Natsir. Natsir and friends established an association for da`wa, the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), intending to change society and the state through changing its individuals, turning them into better Muslims. The other group, much less visible yet, consisted of an underground network of Islamic activists who strove to turn Indonesia into an Islamic state. The network consisted of the remnants of the Darul Islam movement, which had from 1949 until 1962 been in control of parts of West Java, South Sulawesi and Acheh and as the ‘Islamic State and Army of Indonesia’ (NII/TII) challenged the Republican government.[13] At the grassroots level, there had always been close relationships between the Masyumi following and that of Darul Islam, but the leadership of both had always been antagonistic: Masyumi considered the Republic as legitimate and Natsir once served as a prime minister; the Darul Islam resented Masyumi’s supporting military operations to destroy it.
The Darul Islam was a home-grown movement and never had international contacts worth mentioning. Masyumi had been more internationally oriented, and the DDII developed especially close contacts with the Arabian Peninsula. It was initially especially the ideas of the Egyptian Muslim Brotherhood (many of whose activists had taken refuge in Saudi Arabia and the other Gulf states) that inspired them, and the DDII published several seminal texts in translation and was instrumental in introducing Brotherhood-style mobilizing on university campuses.[14] Later, from the late 1980s onward, the Dewan came increasingly under Salafi (‘Wahhabi’) influence.
The pesantren at Gontor was the one that was ideologically closest to the DDII; like the Dewan itself, it developed increasingly close relations with the World Muslim League (Rabitat al-`Alam al-Islami), which may have contributed to a more ‘puritan’ attitude than in other pesantrens. It appears however that the DDII leadership was disappointed with Gontor because it produced alumni who adopted much more liberal religious views and politically accommodating attitudes than what the DDII had hoped for — Nurcholish Madjid, who in 1970 called for secularization and opposed the idea of Islamic parties, being the most prominent example.[15] The Dewan took the initiative to establish a few pesantren that were more closely in line with what it deemed appropriate Islamic education, one of them, the pesantren Ulil Albab in Bogor, primarily serving students at that city’s agricultural university, another targeting a less sophisticated public in the Central Javanese city of Solo. The latter pesantren, Al-Mukmin, became better known by the name of the village on the edge of Solo to which it moved after some time, Ngruki.
Ngruki
Al-Mukmin was established in 1972 by the chairman of the Central Java branch of the DDII, Abdullah Sungkar. Among the co-founders was the presently well-known Abu Bakar Ba’asyir, then a young Gontor graduate. Al-Mukmin aimed to combine the best aspects of two models, Gontor for the teaching of Arabic, and the pesantren of Persis in Bangil for the teaching of shari`a.[16] Sungkar, Ba’asyir and their colleagues were strongly influenced by Muslim Brotherhood thought, and this was reflected to some extent in their teaching of Islamic history and doctrine. [17] By the end of the decade, Sungkar and Ba’asyir joined the underground Darul Islam and became increasingly active in mobilizing radicals outside the pesantren. Using the organizational model of the Egyptian Brotherhood, they set up an underground structure of cells (usrah), members of which were recruited among the most committed of radical mosque activists but also among ordinary neighbourhood toughs.[18] This underground organization was also loosely referred to as ‘Jama`ah Islamiyah’, an name that was later to gain a certain notoriety. Sungkar and Ba’asyir openly opposed certain New Order policies that they considered as un- or anti-Islamic; they spent some years in detention and decided to flee to Malaysia in 1985 when another arrest threatened. It was around this time that Sungkar first sent a handful of followers to Pakistan in order to take part in the Afghan jihad and gain guerrilla experience.[19] Ba’asyir lived a frugal life as an itinerant teacher during the fifteen years he spent in Malaysia, and in the 1990s established a modest pesantren, Luqmanul Hakiem, in Johor.
Sungkar and Ba’asyir were both a source of pride and an embarrassment to Ngruki. Their radical reputation was not good for the school’s relation with local authorities and it inhibited the acquisition of students from outside the milieu that understood and supported the politics of these two teachers. But some of the teachers who stayed behind continued sharing their ideas, and contact with them was maintained over the years, through visits of students and graduates. The ICG reports emphasize the centrality of Ngruki in the Jama`ah Islamiyah network, but many of the JI activists involved in violent acts are not Ngruki alumni. There are indications that some activists were first recruited while studying in Ngruki, but it is not entirely clear what this recruitment meant.[20]
Compared to many other pesantrens, Al-Mukmin is poor and its teachers lead a precarious life, earning a little money on the side as preachers. Most of the students are from families that cannot afford high fees; the pesantren appears to have few prosperous supporters. Because of its radical reputation, few would like to be seen financially supporting it. The pesantren carefully maintains the network of alumni, because it is though this network that new students are recruited. A few alumni have established, or joined, modest pesantrens themselves. One of these, Al-Islam in Lamongan, East Java, gained a sudden notoriety because three of the Bali bombers were brothers of its founder. However, this founder was not himself a Ngruki graduate; one of the brothers, Mukhlas or Ali Gufron, was a Ngruki graduate but, more importantly, he was also an Afghanistan veteran. The three brothers had spent time together as migrant workers in Malaysia and had visited the pesantren Luqmanul Hakiem, where Mukhlas was also a teacher.
The Hidayatullah ‘network’
The 2003 ICG report implicates a number of other pesantrens in the Jama`ah Islamiyah, notably the ‘Hidayatullah network’. Suspected JI activists spent brief periods in pesantrens of this network.[21] The pesantren Hidayatullah of Balikpapan in East Kalimantan is no doubt an interesting and remarkably successful institution. It was officially established in 1976 and has meanwhile almost 150 branches all over the Archipelago. This network is closely connected to the Bugis diaspora — the Bugis are a seafaring ethnic group originating from South Sulawesi — and appears to have a link with what remains of the Bugis Darul Islam network. However, since its founding this pesantren network has made efforts to maintain good relations with the government. The first pesantren was officially opened by the then Minister of Religious Affairs, A. Mukti Ali. Eight years later, the pesantren received a prestigious government prize, the Kalpataru prize for environmental conservation, presented by President Suharto himself. Later, president Habibie and Megawati’s vice-president Hamzah Haz also made official visits to this pesantren. It frequently receives foreign visitors. Daughter pesantrens have been established wherever there is a Bugis diaspora community, from Acheh to Papua.
The pesantren gained a wide renown for a magazine it has published since 1988, Suara Hidayatullah, and which at its peak achieved a circulation of 52,000 copies. The magazine reads like a broadsheet of the Islamist International; it is militant, gives information on all the jihads being fought in the world, is fiercely anti-Jewish and anti-Christian, and has interviews with and sympathetic articles on all radical Islamic groups of the country.
Pesantren Al-Zaytun
The most posh pesantren of the country is Al-Zaytun in Indramayu, which in the past few years has drawn a lot of attention and has been accused of heterodox practices. Like Hidayatullah, it appears to have close connections to the underground Darul Islam movement, in this case that of West Java and, again like Hidayatullah, it has excellent relations with certain powerful people. Although it has come under attack for alleged heterodoxies and for being financed through dubious activities, it appears to enjoy such strong protection that it is immune from all criticism.[22] The pesantren is so wealthy that there has been some speculation as to the source of its wealth: was it the coffers of the Darul Islam movement, or money from the Suharto family? The evidence in the public domain suggests that both may be true, at least to some extent.
[1] This pesantren was presented as the central hub in an Indonesian Al-Qa`ida network in a report by the International Crisis Group, “Al-Qaeda in Southeast Asia: the case of the ‘Ngruki network’ in Indonesia”. Jakarta/Brussels: International Crisis Group, 2002.
[2] Claude Guillot, “Le role historique des perdikan ou “villages francs”: le cas de Tegalsari”, Archipel 30, 1985, 137-162; J.A. van der Chys, “Bijdragen tot de geschiedenis van het inlandsch onderwijs”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 14, 1864, 212-323. The historical evidence is surveyed in: Martin van Bruinessen, “Pesantren and kitab kuning: Continuity and change in a tradition of religious learning”, in: W. Marschall (ed.), Texts from the islands: Oral and written traditions of Indonesia and the Malay world [Ethnologica Bernensia 4], Berne: The University of Berne Institute of Ethnology, 1994, pp. 121-146.
[3] On the books studied in the pesantren, and the shifts in the curriculum see: Martin van Bruinessen, “Kitab kuning: books in Arabic script used in the pesantren milieu”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 146, 1990, 226-269. There is a striking similarity to the curriculum in Kurdish madrasas, as described in: Zeynelabidin Zinar, “Medrese education in Kurdistan”, Les annales de l’autre Islam 5, 1998, 39-58.
[4] Martin van Bruinessen, “Muslims of the Dutch East Indies and the caliphate question”, Studia Islamika (Jakarta) vol.2 no.3, 1995, 115-140.
[5] Saiful Mujani and R. William Liddle, “Indonesia’s approaching elections: politics, Islam, and public opinion”, Journal of Democracy 15/1, 2004, 109-123.
[6] Lance Castles, “Notes on the Islamic school at Gontor”, Indonesia 1, 1966, 30-45; Ali Saifullah HA, “Daarussalaam, pondok modern Gontor”, in: M. D. Rahardjo (ed.), Pesantren dan pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1974, pp. 134-154; Mahrus As`ad, “Ma`had al-Juntûr bayna’l-tajdîd wa’l-taqlîd”, Studia Islamika vol.3, no.4, 1996, 165-193.
[7] On Persis and its pesantren, see: Howard M. Federspiel, Islam and ideology in the emerging Indonesian state: the Persatuan Islam (PERSIS), 1923 to 1957, Leiden: Brill, 2001. Cf. my review in International Journal of Middle East Studies 35 (2003), 171-173.
[8] M. Saleh Widodo, “Pesantren Darul Fallah: eksperimen pesantren pertanian”, in: M. D. Rahardjo (ed.), Pesantren dan pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1974, pp. 121-133; M. Habib Chirzin, “Impak dan pengaruh kegiatan pondok Pabelan sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat desa”, in: (ed.), Pesantren: Profil kyai, pesantren dan madrasah [=Warta-PDIA No.2], Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama R.I., 1981, pp. 69-78.
[9] V.S. Naipaul, Among the believers, an Islamic journey, New York: Knopf, 1981.
[10] M. Dawam Rahardjo (ed.), Pergulatan dunia pesantren: membangun dari bawah, Jakarta: P3M, 1985; Manfred Ziemek, Pesantren dalam perubahan sosial, Jakarta: P3M, 1986.
[11] Martin van Bruinessen, NU: tradisi, relasi-relasi kuasa, pencarian wacana baru, Yogyakarta: LKiS, 1994.
[12] Djohan Effendi, “Progressive traditionalists: the emergence of a new discourse in Indonesia’s Nahdlatul Ulama during the Abdurrahman Wahid era”, Ph.D. thesis, Deakin University, Department of Religious Studies, 2000; Laode Ida, Kaum progresif dan sekularisme baru NU, Jakarta: Erlangga, 2004.
[13] C. van Dijk, Rebellion under the banner of Islam: the Darul Islam in Indonesia, The Hague: Martinus Nijhoff, 1981; Holk H. Dengel, Darul-Islam. Kartosuwirjos Kampf um einen islamischen Staat in Indonesien, Wiesbaden: Franz Steiner Verlag, 1986.
[14] Asna Husin, “Philosophical and sociological aspects of da`wah. A study of the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia”, Ph.D. thesis, Columbia University, 1998; Lukman Hakiem and Tamsil Linrung, Menunaikan panggilan risalah: dokumentasi perjalanan 30 tahun Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 1997; Martin van Bruinessen, “Genealogies of Islamic radicalism in Indonesia”, South East Asia Research 10 no.2, 2002, 117-154.
[15] See the comments to this effect in: Kamal Hassan, Muslim intellectual response to New Order modernization in Indonesia, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa, 1980.
[16] The history of this pesantren is sketched in: Farha Abdul Kadir Assegaff, “Peran perempuan Islam (penelitian di Pondok Pesantren Al Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah)”, Tesis S-2, Universitas Gadjah Mada, Program Studi Sosiologi, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial, 1995; Zuly Qodir, Ada apa dengan pesantren Ngruki?, Bantul: Pondok Edukasi, 2003; ES. Soepriyadi, Ngruki & jaringan terorisme: melacak jejak Abu Bakar Ba’asyir dan jaringannya dari Ngruki sampai bom Bali, Jakarta: P.T. Al-Mawardi Prima, 2003.
[17] A list of books taught in Ngruki in the mid-1990s mentions Sa`id Hawwa’s Jundullah as one of the textbooks for doctrine (Qodir, Ada apa…, p. 52), and a former student recounts that the distinguishing of al-walâ’ wa-l-barâ’ was at the core of the curriculum (Soepriyadi, Ngruki, p. 24-5).
[18] The best published study of this Usrah network is: Abdul Syukur, Gerakan Usroh di Indonesia: peristiwa Lampung 1989, Yogyakarta: Ombak, 2003. A good early overview, based on court documents of trials against arrested Usrah members, is: Tapol, Indonesia: Muslims on trial, London: Tapol/Indonesian Human Rights Campaign, 1987. There is much useful information in a thesis by a Ngruki graduate: Muh. Nursalim, “Faksi Abdullah Sungkar dalam gerakan NII era Orde Baru (studi terhadap pemikiran dan harakah politik Abdullah Sungkar)”, Tesis Magister, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Program Pascasarjana, 2001. See also Bruinessen, “Genealogies” and International Crisis Group, “Al Qaeda”.
[19] Nursalim, “Faksi Abdullah Sungkar”; a detailed overview of Sungkar followers who went to Pakistan during the 1980s in: International Crisis Group, “Jemaah Islamiyah in South East Asia: damaged but still dangerous”, Jakarta: International Crisis Group, 2003.
[20] One of my informants is a former student in Al-Mukmin, who was recruited into the NII by an older peer — not by a teacher! — in 1993, when Sungkar and Ba’asyir were living in Malaysia. Another frequent visitor of the pesantren told me that promising students would be singled out for special treatment. They would be woken up in the middle of the night and told to perform the nightly prayers, after which they would be given special instruction, presumably of a religious nature but secret.
[21] International Crisis Group, “Jemaah Islamiyah”, p. 26-27, uncritically repeated in various other reports.
[22] The Islamist activist Umar Abduh has published three books denouncing this pesantren: Umar Abduh, Membongkar gerakan sesat NII di balik pesantren mewah Al Zaytun, Jakarta: Lembaga Penelitian & Pengkajian Islam, 2001; Umar Abduh, Pesantren Al-Zaytun sesat? Investigasi mega proyek dalam Gerakan NII, Jakarta: Darul Falah, 2001; Umar Abduh, Al Zaytun Gate. Investigasi mengungkap misteri. Dajjal Indonesia membangun negara impian Iblis, Jakarta: Lembaga Pusat Data & Informasi (LPDI) bekerjasama dengan SIKAT & AL BAYYINAH, 2002. A former(?) Darul Islam activist, Al Chaidar, claims that much of the money for the pesantren was collected by the Ninth Regional Command of the NII, which carried out robberies and other unorthodox fundraising activities. He also accused the movement of heterodox beliefs and practices: Al Chaidar, Sepak terjang KW. IX Abu Toto Syech A.S. Panji Gumilang menyelewengkan NKA-NII pasca S.M. Kartooewirjo, Jakarta: Madani Press, 2000. The Indonesian Ulama Council (MUI) carried out an independent investigation, that found some of the accusations founded: Majelis Ulama Indonesia Team Peneliti Ma’had Al-Zaytun, “Laporan lengkap hasil penelitian Ma’had al-Zaytun Haurgeulis Indramayu”, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 2002.
1 comment April 19, 2005
DUKUNGAN BIN PADA AL ZAYTUN
Jakarta: Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M Hendropriyono, dilaporkan penulis Buku Serial Musuh-Musuh Darul Islam, Al Chaidar, ke Badan Reserse dan Kriminal, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia untuk kasus penghinaan dan ancaman, Jumat (28/11). Saat melapor ke Mabes Polri, Al Chaidar didampingi editor bukunya, Taufik Hidayat.
Menurut Al-Chaidar, kepala BIN tersebut mengeluarkan ancaman saat memberikan ceramah tanggal 13 Mei 2003 di Pesantren Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. “Dia (Hendropriyono) bilang akan menghajar siapa saja yang melawan Al Zaytun,” ujar Al-Chaidar sambil memperlihatkan bukti rekaman VCD.
Selain itu, Kepala BIN dinilai telah melakukan penghinaan, karena dalam ceramahnya Hendro mencap “iblis” bagi mereka yang menghujat keberadaan Al Zaytun.
Al Chaidar sendiri adalah penulis buku yang sangat vokal menentang ajaran Al Zaytun karena dinilai telah menyimpang dari ajaran Islam.
Dalam gugatannya, Al Chaidar menyertakan barang bukti antara lain VCD terbitan Ma’had Al Zaitun, Majalah dwi mingguan Medium, edisi 17, 8-21 Oktober 2003 dan majalah bulanan Al Zaytun no 31, 2003 yang berisi artikel “Pembelaan seorang kepala mata-mata”.
Al Chaidar menyebutkan gugatan ini, sudah mendapat dukungan dari mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid. “Gus Dur siap menjadi saksi jika kasus ini maju ke persidangan,” katanya yakin, walaupun dukungan tersebut baru diperolehnya secara lisan ketika bersilahturahmi ke rumah Gus Dur saat Lebaran.
Sejak buku-bukunya yang menentang ajaran Al Zaytun dipublikasikan pada Januari 2000, Al Chaidar kerap kali menerima ancaman-ancaman berupa tembakan-tembakan pistol dan ancaman melalui telepon. “Ancamannya bernada sangat mengerikan seperti akan dibunuh dan dibakar,” katanya. Namun Al Chaidar belum mengetahui secara persis siapa pelakunya.
Selain kepala BIN, Al Chaidar juga akan melaporkan pemilik Metro TV, Surya Paloh, karena kasus serupa. Untuk itu dirinya memberi waktu tiga hari mulai hari ini, kepada Hendropriyono maupun Surya Paloh untuk meminta maaf dan menarik perkataan mereka.
Add comment April 19, 2005













